MENELUSURI Jalan Pangeran Jayakarta berasa seperti kembali ke masa kolonial, karena ada gedung gereja tertua yang berada di ujung jalan. Ialah Gereja Sion, yang sudah berusia 300 tahunan.
Dari luar bangunan terlihat sekali jika gedung ini merupakan salah satu sisa penjajahan Belanda di mana terlihat dari jendela besar berbentuk setengah bundar, dan gedung megah bercat usang. Masih sangat terasa suasana kolonialnya.
Di area depan, tepatnya bagian taman ternyata ada sebuah kuburan Belanda yang masih tersisa, dan dipelihara di sana. Prasasti itu merupakan Gubernur Jendral Henric Zwaardecroon di tahun 1667.
Kemudian saat masuk ke dalam suasan penjajahan semakin terasa dari hall dan fondasi yang besar-besar. Bangku-bangku kayu lama pun bisa terlihat ketika memasuki ruangan, begitu luas biasa indahnya sisa sejarah ini.
Berdasarkan penuturan Yahya G Poceratu, yang bekerja sebagai Balai Pelestarian Budaya Cagar Budaya Serang dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, semua ornamen dan bangku di dalam gereja masih asli seperti waktu gereja dibangun.
"Tidak hanya bangku, ada mimbar, kursi majelis, cawan, dan kursi panjang itu semua masih sama dan tidak ada yang diganti," tutur Yahya kepada Okezone.
Jadi sejarahnya, gereja ini dulunya dinamakan sebagai Portugese Buitenkerk, yang artinya "gereja Portugis di luar" (tembok kota), di tahun 1693. Sebab, dulu di dekat Jayakarta ada benteng Batavia yang sangat besar, dan di dalam tembok itu masih ada gereja Portugis yang dikuasai Belanda.
Jadi dulunya, di luar tembok itu para tawanan VOC yang menahan Portugis merasa membutuhkan gereja untuk tempat beribadah. Karena sebelum adanya gereja mereka hanya berdoa di sebuah pondok kecil dan sudah tidak mampu digunakan lagi.
Kemudian, Pieter Van Hoorn anak dari gubenur Jenderal Hindia Belanda saat itu membangu gedung megah tersebut. Setelah memakan waktu selama dua tahun, akhirnya di tahun 1695 gereja ini jadi dan digunakan untuk beribadah.
"Keunikan dari gedung ini, bisa dilihat dari fondasi yang kokoh, di mana mereka membuatnya dari 10 ribu kayu dolken (kayu bulat) karena untuk terhindar dari ancaman gempa bumi," tegasnya.
Prediksi orang Belanda itu benar saja, setelah banyak mengalami gempa bumi yang mengenai kawasan Jakarta. Namun, gereja masih kokoh berdiri, bahkan tidak ada sama sekali keretakan dari dinding yang sangat kokoh dan tinggi ini.
Sekarang jika dilihat dari sisi kiri gereja, ada sebuah mimbar besar tingkat dua yang terbuat dari kayu, ini juga menjadi peninggalan yang belum dipugar. Terlihat dari sentuhan ornamen emas yang diukirkan itu menunjukan jika mimbar tersebut diekspor langsung dari Eropa.
Kemudian sebrang mimbar tersebut, ada sebuah altar yang berbentuk cawan besar. Cawan ini sendiri disumbangkan di abad 18 dan menjadi simbol umat kristiani di mana cawan digunakan ketika menyambut Yesus naik ke Surga. Masih sangat kokoh dan rapih.
"Di dinding banyak terlihat plakat, itu plakat dari zaman Belanda juga. Jika yang kecil yang ada benderanya itu tandanya dari tokoh publik, kalau yang besar dari Kerajaan," ungkapnya.
Tak jauh dari mimbar ada sebuah prasasti besar berwarna emas dengan tulisan Belanda. Prasasti ini merupakan nisan kuburan ratu dan raja Belanda yang terkubur di dalam gereja namun tulang belulangnya sudah dipulangkan ke keluarganya.
"Kawasan ini kan dulunya kuburan semuanya, termasuk di dalam gereja sendiri, tapi sejak berganti pemerintahan dan sudah merdeka prasastinya di bawa ke Museum Taman Prasasti," ujarnya.
Selain menjadi tempat kuburan, dulunya saat masa penjajahan Jepang. Gereja ini menjadi tempat penyimpanan abu jenazah, dan kemudian sekitar tahun 80 an, pemerintah saat itu menjual bangunan ini untuk dijadikan gudang.
"Saya juga enggak habis pikir gereja bisa - bisanya dijual, tapi diselamatkan oleg Menteri Agama saat itu, dan berubah nama menjadi gereja Sion," paparnya.
Yahya mengakui jika hingga sekarang gedung sengaja dibentuk seperti awalnya, dan tidak dilakukan renovasi. Sebab, ingin mempertahankan nilai - nilai sejarah yang ada, dan kini bisa dikatakan gereja tersebut menjasi gereja tertua di Indonesia yang tidak dilakukan pemugaran.
(Fiddy Anggriawan )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.