Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

FOOD STORY: Sate Taichan, Berawal dari Keisengan Orang Korea Kini Jadi Favorit di Jakarta

Dimas Andhika Fikri , Jurnalis-Jum'at, 17 Februari 2017 |15:39 WIB
FOOD STORY: Sate Taichan, Berawal dari Keisengan Orang Korea Kini Jadi Favorit di Jakarta
Sate taichan (Foto:Beritasurabaya)
A
A
A

Tak perlu waktu yang lama, tren makanan pedas ini pun mulai diikuti oleh puluhan pedagang. Mereka berjualan di sekitaran Patung Panahan Senayan hingga mendekati pintu masuk Hotel Mulia.

Kendati demikian, masing-masing pedagang memiliki ciri khas tersendiri yang sudah melekat di lidah para pelanggannya.

“Memang sudah banyak sekali yang berjualan sate taichan di tempat ini. Tapi kelebihan makanan ini kan terletak pada rasa sambal dan bumbunya. Jadi para pelanggan sudah bisa menetapkan sendiri pilihannya,” tambah Delle.

Bermodalkan Rp5 juta bisa membuka usaha sate taichan

Diakui oleh Delle, membuka usaha sate taichan ternyata tidak serumit yang orang bayangkan. Ia berhasil membuka sebuah kedai sate taichan dari hasil gaji freelance yang ia tabung selama beberapa bulan.

"Untuk bahan baku makanannya, saya siapkan budget Rp1 juta. Kalau ditambah gerobak, kursi, dan lain-lain, total modal mencapai angka Rp5 juta. Sedangkan untuk biaya sewa lahan, para pedagang disini sudah memiliki koordinator atau sering kami sebut paguyuban. Biaya sewanya murah kok, Rp15 ribu per minggu," jelasnya.

Meski baru berjualan selama kurang lebih 4 bulan, Delle bahkan sudah berhasil menciptakan lapangan pekerjaan baru untuk orang-orang di sekitarnya. Ia mempekerjakan 4 orang asisten yang bertugas untuk memotong daging, dan menusukkannya pada tusuk sate.

"Setiap hari saya biasanya belanja 8 kg daging ayam. Yang memotong itu ibu-ibu di dekat rumah saya. Mereka saya bayar Rp10rb per kg, dan untuk biaya menusukkan daging, saya bayar mereka 10 ribu per 100 tusuk. Untuk urusan bumbu saya mempercayakan ibu, jadi tugas saya nanti hanya membakar dan menyajikan kepada pengunjung," kata Delle.

Kedai sate taichan milik Delle sendiri tidak dibuka setiap hari. Ia hanya memilih waktu-waktu tertentu yang sekiranya ramai dikunjungi oleh pembeli.

"Karena saya juga kerja sebagai freelance, saya dagangnya setiap hari Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Kalau weekend, saya biasa membawa 1.000 tusuk sate, karena selalu ramai hingga tengah malam," tukas Delle.

(Santi Andriani)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement