SEJAK 2016, kalangan milenial Jakarta dihebohkan dengan kemunculan kuliner unik yang disebut sate taichan. Dilihat dari tampilannya, sate taichan memang terlihat berbeda dibandingkan sate pada umumnya. Makanan ini tidak menggunakan bumbu kacang seperti sate madura, sehingga memiliki tekstur daging yang legit dan berwarna putih.
Daya tarik sate taichan sendiri terletak pada rasa pedas yang dihasilkan oleh bumbu cabainya. Sensasi pedas inilah yang paling banyak diburu oleh para pencinta kuliner.
Namun, tahukah Anda bahwa asal usul hidangan ini masih belum diketahui secara pasti, meski banyak yang berpendapat bahwa sate taichan berasal dari Jepang dan Korea Selatan. Daripada penasaran, yuk simak hasil penelusuran Okezone!
Berawal dari keheranan orang Korea dengan sate khas Indonesia
Saat ditemui Okezone di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis 16 Februari 2017, pemilik kedai Sate Taichan Deka, Delle Karnagi, mengungkapkan sejumlah fakta unik tentang asal usul makanan tersebut.
Menurut Delle, saat itu salah satu penjual sate madura yang ada di kawasan Senayan, sedang kedatangan dua pengunjung yang salah satunya berasal dari Korea Selatan. Awalnya mereka merasa heran kenapa bentuk sate di Indonesia dibaluri bumbu kacang dengan cita rasa yang manis.
“Pengunjung pria kemudian berinisiatif untuk menunjukkan kepada penjualnya bagaimana ia membakar sate. Ternyata, sate yang ia bakar hanya ditaburi garam, dan setelah matang ternyata warnanya putih,” tutur Delle.
Lebih lanjut ia menambahkan, setelah proses pembakaran selesai, pria Korea itu langsung memberikan bumbu cabai yang cukup banyak diatas daging sate. Saat ditanya oleh penjual sate madura, sang kekasih yang notabennya asli Indonesia menjawab bahwa olahan tersebut dalam Bahasa Korea dinamakan sate taichan.
Cerita tersebut dibenarkan oleh ibunda Delle yang juga akrab disapa Mpok Encop. Menurutnya, ada sebuah alasan tersendiri mengapa sate taichan identik dengan cita rasa pedas.
"Kata orang-orang, di Korea, sate taichan itu merupakan makanan 'pendorong minuman'. Jadi kalau mau cepat mabuknya, mereka makan sate taichan dulu. Mereka percaya makanan pedas itu kombinasi yang tepat dengan alkohol," kata Mpok Encop.
Kawasan Senayan pusatnya sate taichan
Seiring berjalannya waktu, ide unik itu berhasil menginspirasi pedagang sate madura itu. Ia bahkan nekat mengubah total konsep dagangannya dan mulai mencoba peruntungan dengan menjual sate taichan.
Tak perlu waktu yang lama, tren makanan pedas ini pun mulai diikuti oleh puluhan pedagang. Mereka berjualan di sekitaran Patung Panahan Senayan hingga mendekati pintu masuk Hotel Mulia.
Kendati demikian, masing-masing pedagang memiliki ciri khas tersendiri yang sudah melekat di lidah para pelanggannya.
“Memang sudah banyak sekali yang berjualan sate taichan di tempat ini. Tapi kelebihan makanan ini kan terletak pada rasa sambal dan bumbunya. Jadi para pelanggan sudah bisa menetapkan sendiri pilihannya,” tambah Delle.
Bermodalkan Rp5 juta bisa membuka usaha sate taichan
Diakui oleh Delle, membuka usaha sate taichan ternyata tidak serumit yang orang bayangkan. Ia berhasil membuka sebuah kedai sate taichan dari hasil gaji freelance yang ia tabung selama beberapa bulan.
"Untuk bahan baku makanannya, saya siapkan budget Rp1 juta. Kalau ditambah gerobak, kursi, dan lain-lain, total modal mencapai angka Rp5 juta. Sedangkan untuk biaya sewa lahan, para pedagang disini sudah memiliki koordinator atau sering kami sebut paguyuban. Biaya sewanya murah kok, Rp15 ribu per minggu," jelasnya.
Meski baru berjualan selama kurang lebih 4 bulan, Delle bahkan sudah berhasil menciptakan lapangan pekerjaan baru untuk orang-orang di sekitarnya. Ia mempekerjakan 4 orang asisten yang bertugas untuk memotong daging, dan menusukkannya pada tusuk sate.
"Setiap hari saya biasanya belanja 8 kg daging ayam. Yang memotong itu ibu-ibu di dekat rumah saya. Mereka saya bayar Rp10rb per kg, dan untuk biaya menusukkan daging, saya bayar mereka 10 ribu per 100 tusuk. Untuk urusan bumbu saya mempercayakan ibu, jadi tugas saya nanti hanya membakar dan menyajikan kepada pengunjung," kata Delle.
Kedai sate taichan milik Delle sendiri tidak dibuka setiap hari. Ia hanya memilih waktu-waktu tertentu yang sekiranya ramai dikunjungi oleh pembeli.
"Karena saya juga kerja sebagai freelance, saya dagangnya setiap hari Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Kalau weekend, saya biasa membawa 1.000 tusuk sate, karena selalu ramai hingga tengah malam," tukas Delle.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.