Bahkan jika anak laki-laki tertarik dengan kegiatan yang bersifat feminin belum tentu dia banci. Langkah selanjutnya orangtua harus melindungi anak dari ejekan orang-orang yang dapat melemahkan mental anak.
“Perangi kesukaan anak dengan kesukaannya yang tidak biasa dengan konsekuensi. Beri dia pilihan ingin kostum Elsa atau Spederman. Jika dia memilih Elsa, jelaskan bahwa konsekuensinya dia akan diejek atau dipanggil “cewek”. Tapi, ketika anak sudah memilih dan menerima konsekuensi, orangtua perlu mengajarkan kepada anak untuk membantah. Minta anak berkata, “Bukan, aku anak laku-laki” ketika teman-temannya mengejek,” sambungnya.
Menurut Erika kalau hanya persoalan lebih suka kostum saja itu hanya pilihan. Sebab, ada perbedaan antara preferensi jenis kelamin, identitas gender, dan orientasi seksual. Jika anak lebih memilih mainan dan benda-benda yang secara tradisional dikaitkan dengan jenis kelamin, buka berarti bahwa seorang anak akan memiliki preferensi seks yang sama. Hanya saja anak memiliki perasaan yang lebih sensitif.
“Sama halnya ketika anak perempuan tidak suka main boneka. Beberapa anak perempuan suka bermain permainan anak laki-laki dan suka berolahraga, tetapi bukan berarti mereka lesbian atau biseksual. Hanya orang dewasa saja yang melabeli seperti itu,” paparnya lagi.
Untuk menavigasi anak-anak berpotensi menjadi LGBT atau tidak bukan dari mainan atau hobi yang mereka suka. Anak-anak masih dalam masa pertumbuhan dan memilih. Dibutuhkan seorang ahli untuk memeriksa kecenderungan identitas anak.
(Silvia Junaidi)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.