Pemerintah Kota Pontianak menggelar Festival Arakan Pengantin sekaligus melaksanakan nikah massal yang dilaksanakan Kota Pontianak dalam rangka memperingati hari jadi Kota Pontianak ke-245.
Setiap peringatan Harjad Kota Pontianak, Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak terus menampilkan berbagai kegiatan terutama kaitannya dengan adat istiadat dan tradisi masyarakat Kota Pontianak, salah satunya arakan pengantin ini.
Hal ini bertujuan untuk tetap melestarikan dan mempertahankan adat istiadat dan seni budaya masyarakat Pontianak.
“Hal-hal seperti ini terus kita gali dan kita angkat ke permukaan, mulai dari kuliner, seni budaya arakan pengantin, saprahan dan sebagainya sehingga akar budaya khas Kota Pontianak tidak akan luntur,” ujar Sutarmidji, Walikota Pontianak Kepada Okezone.
Pihaknya berupaya mengembalikan lagi pada tatanan-tatanan awal atau dasar dari setiap seni budaya maupun hal-hal lainnya yang bersifat tradisional di Kota Pontianak.
Peringatan hari jadi Pontianak tahun ini, lebih banyak menampilkan seni budaya yang menjadi aset Kota Pontianak.
Bahkan, pihaknya sedang membukukan jenis-jenis kue tradisional khas Kota Pontianak. Kendati sebagian besar kuliner tradisional sudah ditampilkan,namun tidak sedikit penganan tradisional itu yang belum diangkat ke permukaan.
“Seperti kemarin di Kampung Bansir saat acara saprahan, kita melihat ada beberapa jenis makanan yang belum ditampilkan ternyata itu kue tradisional Kota Pontianak,” tutur Sutarmidji.
Sebagaimana tahun sebelumnya, Pemkot Pontianak juga menggelar nikah massal bagi pasangan calon pengantin dari kalangan masyarakat tidak mampu.
Prosesi pernikahan bagi 15 pasangan pengantin yang berasal dari enam kecamatan se-Kota Pontianak ini dilakukan secara bersama di Masjid Raya Mujahidin.
Nikah massal ini merupakan program Pemkot untuk membantu menikahkan masyarakat kurang mampu. “Semoga mereka bisa membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah,” harapnya.
Tahun depan, Pemkot berencana menggelar isbat nikah bagi pasangan yang sudah menikah secara agama dan memiliki anak namun belum mengantongi buku nikah.
Dengan membantu mereka untuk isbat nikah hingga memiliki buku nikah, maka anak-anak mereka akan lebih mudah untuk memiliki akta lahir. “Kalau mereka nikah dan tidak memiliki buku nikah, akta lahir anak sulit untuk dikeluarkan. Itulah kenapa banyak anak yang tidak punya akta kelahiran. Kalau pun akta lahirnya bisa diterbitkan namun hanya tercantum nama ibu, sedangkan nama bapaknya tidak karena orang tua mereka tidak memiliki bukti sah dokumen pernikahan yakni buku nikah,” bebernya.
Sebagaimana tema Harjad Kota Pontianak ke-245 ‘Bikin Pontianak Bangge’, ia mengajak seluruh masyarakat Pontianak melakukan kegiatan-kegiatan yang membuat Pontianak bangga. Sebagai warga Pontianak, kata Sutarmidji, sudah semestinya merasa bangga karena kota ini memiliki berbagai prestasi dalam tata kelola pemerintahan dan sikap masyarakatnya dalam merespon percepatan pembangunan. “Itu tidak ada di daerah lain sehingga perspektif-perspektif yang ada di Kota Pontianak ini dijadikan contoh oleh daerah-daerah lain. Inilah yang membuat Pontianak lebih dikenal, Pontianak disegani,” tukasnya.
Orang nomor satu di Kota Pontianak ini optimis, satu waktu, Pontianak bisa menjadi kota tertib dalam tatanan hukum. Sebab, tidak sedikit kebijakan-kebijakan yang dicanangkan pemerintah pusat, Pemkot Pontianak selangkah lebih dulu melakukannya. Sebut saja reformasi hukum yang dicanangkan pusat, Pemkot sudah lebih dulu. Reformasi perizinan, Pemkot sudah lebih dulu dengan memangkas 99 jenis izin menjadi hanya 17 perizinan. Dwelling time pelabuhan,di Pontianak sudah menerapkan percepatan itu dan bahkan masuk dalam Top 35 Inovasi Pelayanan Publik. Tim Pengendali Inflasi, di Pontianak dua kali berturut-turut sebagai kota yang mampu mengendalikan inflasi dengan konsep dan teori yang diterapkan. Pontianak juga menjadi pelopor dalam inovasi hingga dinobatkan sebagai kota dengan inovasi terbaik se-Indonesia oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI. “Sehingga apa yang dilakukan masyarakat Pontianak itu yang membuat Pontianak bangga,” imbuh Sutarmidji.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pontianak, Hilfira Hamid, menjelaskan, Festival Arakan Pengantin ini merupakan upaya pelestarian adat istiadat yang menjadi tradisi dalam pernikahan khususnya pengantin Melayu Pontianak di tengah modernisasi. Sejatinya, arak-arakan pengantin itu adalah mengantar mempelai pria menuju ke rumah mempelai perempuan. "Karena ini bentuknya festival, sehingga kita ikutsertakan mempelai perempuannya dalam arakan pengantin supaya lebih menarik," imbuhnya.
Dalam arak-arakan ini juga menyertakan kedua mempelai pengantin, orang tua dari kedua belah mempelai, pengiring-pengiringnya dilengkapi dengan barang-barang hantaran serta diiringi alunan musik baik itu berupa tar maupun tanjidor.
Adapun pengantin laki-laki mengenakan pakaian telok belanga, sedangkan perempuannya mengenakan baju kurung.
Pengiring-pengiring yang mengantar calon pengantin membawa berbagai perlengkapan dalam prosesi pernikahan adat melayu.
Barang-barang hantaran isinya antara lain, jebah berisi sirih, pinang, kapur, tembakau, gambir dan bunga rampai.
Selain itu, juga ada uang asap, perhiasan emas, pakaian, alat-alat dan bahan kecantikan, seperangkat perlengkapan tidur seperti selimut, seprei dan lainnya, seperangkat alat dan perlengkapan mandi, barang-barang kelontong serta seperangkat alat shalat.
Tak ketinggalan, dari berbagai barang hantaran tadi, juga dihiasi dengan pokok telok, yaitu menyerupai pohon kecil dengan tangkai-tangkai yang masing-masing terdapat telur dan hiasan berwarna-warni.
Selain pokok telok, pokok manggar, yang tangkainya terbuat dari lidi dilapisi kertas warna-warni dan ditancapkan pada bagian batang pisang atau buah nanas yang sudah ditusuk tongkat kayu untuk ditancapkan di halaman rumah mempelai wanita. “Semua barang dan perlengkapan barang hantaran ini dikemas semenarik mungkin,” kata Hilfira.
Ia berharap, festival yang digelar rutin setiap tahun dalam memperingati Hari jadi Kota Pontianak ini bisa menjadi daya tarik wisata dan mampu memikat minat wisatawan untuk melihat langsung bagaimana adat istiadat prosesi pernikahan dalam budaya Melayu Pontianak
(Johan Sompotan)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.