Sejumlah peneliti sepakat, berciuman merupakan peristiwa kimia yang menyangkut kepribadian. Mereka menemukan, bahwa pada setiap remaja yang memasuki usia puberitas, antara 12-14 tahun, sekelompok kelenjar di daerah mulut dan bibir mulai aktif berkembang.
Kelompok kelenjar ini menghasilkan zat yang diberi nama semiochemical, yang akan diproduksi jika permukaan bibir mengalami sentuhan, salah satunya adalah ketika berciuman. Kalau sudah diproduksi, maka bibir menjadi lebih lemas. Semiochemical memang berfungsi seperti oli.
Selain itu, ciuman juga menyebabkan pembuluh-pembuluh darah yang ada di sekitar bibir melebar. Hingga bibir lantas tampak lebih lebar dan lebih merah. Para ahli menduga, warna merah alamai akibat ciuman itulah yang ditiru kaum wanita dengan memoleskan lipstik pada bibirnya.
Dalam hal bericuman, perbedaan perilaku antara cowok dan cewek tak berhenti sampai di situ saja loh. Perre Miranda, seorang antropolog asala Kanada, mengungkapkan, hampir semua wanita (97%) memejamkan mata saat berciuman, sedangkan pada pria hanya 30% saja.
Menurut Miranda, sikap memejamkan mata bukan karena wanita tak suka melihat pasangan yang menciumnya. Tetapi ia menikmati pengalaman berciumannya sambil berkhayal tentang pasangannya. Dengan kata lain, ketika seorang wanita dicium maka pikirannya melayang-layang membayangkan hal-hal romantic dari sang kekasih.