MEMILIKI tubuh lebih pendek dua kali lebih mungkin untuk melahirkan bayi prematur daripada ibu yang bertubuh lebih tinggi, kata peneliti dari Uppsala University di Swedia dan University of Auckland di Selandia Baru.
Ibu yang memiliki tinggi 155 sentimeter atau lebih rendah, 9,4 persen dari bayi mereka dilahirkan prematur (kurang dari 37 minggu kehamilan), dan 1,1 persen sangat prematur (kurang dari 32 minggu kehamilan), para peneliti menemukan.
Bagi ibu-ibu yang bertubuh lebih tinggi (179 cm atau lebih), angka prematur masing-masing hanya 4,7 persen dan 0,5 persen, kata mereka. Hasil ini didapat setelah memeriksa data yang dikumpulkan lebih dari 192.000 wanita Swedia berusia di atas 18 tahun antara 1991 dan 2009.
Kelahiran prematur adalah penyumbang angka kematian utama bayi yang baru lahir di seluruh dunia. Bayi lahir prematur juga terkait dengan masalah kesehatan yang serius dalam jangka pendek dan panjang.
"Sekitar setengah dari semua kelahiran prematur bersifat 'spontan'. Masalah tersebut memiliki penyebab yang kompleks dan sering tidak diketahui," kata Jose Derraik dari University of Auckland, seperti dilansir dari NDTV, Selasa (26/4/2016).
Peneliti yang mempublikasikan studi mereka dalam jurnal PLoS ONE ini mengaku tidak tahu persis apa di balik hubungan antara tinggi badan ibu dan kelahiran prematur spontan. Namun bukti dari penelitian lain menunjukkan hal itu bisa menjadi kendala anatomi, kata Derraik.
"Ibu pendek cenderung memiliki sedikit ruang untuk bayi untuk tumbuh sebelum kelahiran, dan ini tampaknya menyebabkan kelahiran prematur pada beberapa wanita," katanya.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.