YOGYA - Pucung merupakan sentra kerajinan tatah sungging kulit, khususnya wayang yang berlokasi di Dusun Karangasem, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tatah berarti mema¬hat, sedangkan sung¬ging artinya mewarnai.
Jadi, tatah sungging adalah proses memahat dan mewarnai pada suatu media. Di Pucung, media yang digunakan adalah kulit sapi dan kerbau. Kulit-kulit ini lah yang nantinya dibuat menjadi wayang.
Ketua Paguyuban Wukirsari Suyono mengungkapkan asal usul dan keunikan kawasan ini yang akan menjadi desa wisata dan alternatif destinasi wisata di Yogyakarta di masa depan. Berikut ulasannya, seperti dikutip dari KRjogja.com, Senin (28/3/2016).
Sejarah Kawasan Pucung
Sejarah Pucung menjadi kampung peng¬rajin wayang berawal dari kehadiran Mbah Atmo Karyo atau biasa disebut Mbah Glemboh, Lurah (kepala desa) Dusun Pucung pada tahun 1917, sebelum Pucung berubah nama menjadi Du¬sun Karangasem. Pada zaman dulu, untuk menjadi seorang lurah harus mendapatkan pelatihan dari panewon (ke¬camatan).
Panewon memiliki hubu¬ngan langsung dengan Keraton. Pelatihan¬nya pun dibina langsung oleh Sultan. Pada masa itu, Sultan yang bertahta adalah Hamengkubuwono VII. Secara tidak langsung, Mbah Glemboh pun men¬jadi abdi dalem Keraton.
Karena kedekatannya dengan Sultan, Mbah Glemboh kemudian diberi tugas untuk merawat dan menjaga wayang keraton. Kemudian pada tahun 1918, Mbah Glemboh tertarik membuat wayang sendiri. Dirumahnya, Ia belajar menatah wayang, dibantu oleh empat orang tetangganya yaitu Mbah Reso Mbulu, Mbah Cermo, Mbah Karyo, dan Mbah Sumo. Awalnya, wayang kulit buatan Mbah Glemboh hendak dibawa ke keraton, untuk diperlihatkan kepada Sultan.
Namun ditengah perjalanan, Be¬landa melihat hasil karya tersebut lalu membeli semuanya. Ternyata tidak hanya Belanda yang tertarik, pemilik salah satu toko batik terkenal yang kebetulan melihat, membawa wayang itu, kemudian membeli dan memajang wayang Mbah Glemboh ditoko batiknya.
Hingga tahun 1930, Mbah Glemboh masih membuat wayang bersama keempat temannya beserta anak-anak mereka. Kemudian pada tahun 1970, PT Sarinah (perusahaan BUMN di Jakarta) datang ke Yogyakarta dan tertarik dengan wayang kulit hasil karya warga Pucung.
Lama kelamaan, wayang kulit Mbah Glemboh makin dikenal dan laris dibeli pelanggan. Banyaknya peminat wayang menginisiatif¬kan warga Pucung untuk ikut mem¬produksi tatah sungging wayang. Hingga sekarang, warga Pucung masih memproduksi wayang. Keahlian menatah wayang mereka dapatkan secara turun temurun.
Mampu Memproduksi 5000 Wayang
Di kawasan ini terdapat 830 perajin dan 51 Industri Kecil dan Menengah (IKM). Dalam sebulan mampu memproduksi wayang kulit hingga turunan produk lainnya seperti kipas sampai gantungan kunci. Kualitas wayang kulit yang dihasilkan dibedakan halus, sedang dan kasar. Semakin halus kualitas wayang, akan semakin mahal pula harganya.
Fakta lainnya, para perajin wayang umumnya mampu membuat aneka turunan produk kulit. Sebaliknya, perajin kap lampu, gantungan kunci atau kipas belum tentu bisa membuat wayang karena membutuhkan keahlian khsusus.
Harga wayang kulit sekitar Rp 10 juta sampai ratusan juga rupiah yang umumnya pesanan khsusus dari wisatawan atau penggemar wayang kulit dari luar negeri. Umumnya hasil karya perajin di ekspor ke Belanda, Australia, Jerman sampai Selandia Baru.
Perajin mulai membuat wayang medium ukuran 30 cm agar mudah dibawa langsung para penggemarnya. Melalui paguyuban warga setempat akan dibuat 'show room' bersaama sehingga memudahkan pemasarannya.
Hasil penjualan akan diserahkan langsung kepada perajin yang selama ini selalu memajang hasil karyanya di rumah masing-masing. Pembentukan paguyuban ini akan menciptakan kesejahteraan bersama warga setempat.
Dibangun gasebo dan homestay di rumah penduduk
Selama ini hanya ada beberapa warga sekitar yang menyediakan fasilitas menginap bagi wisatawan domestik atau mancanegara. Namun, di masa depan para penduduk yang umumnya perajin wayang bersama-sama melengkapi fasilitas menginap dalam satu paket wisata.
Pengunjung direncanakan bisa mempelajari atau membuat wayang dari para perajin. Selanjutnya, wayang hasil buatannya bisa dibawa pulang sebagai cinderamata.
Kawasan Pucung Wukirsari ini sudah dilengkapi gasebo sebagai tempat menyambut para wisatawan termasuk kantong parkir yang mampu menampung bus berbadan besar.
Bahkan, dalam waktu tak lama lagi dibangun sentra pertunjukan wayang kulit atau pentas seni lainnya agar wisatawan semakin nyaman berkunjung.
Lebih senang menggunakan kulit kerbau ketimbang sapi
Perajin di kawasan ini lebih senang menggunakan kulit kerbau lantaran bisa digunakan untuk membuat wayang besar dan medium. Meski dibanderol sekitar Rp 80 ribu per kilogram atau lebih mahal ketimbang kulit sapi kualitas wayang yang dihasilkan lebih bagus dan bisa tahan lama karena tidak mengandung banyak lemah.
Sedangkan kulit sapi atau kambing biasanya digunakan untuk membuat kap lampu serta harus didatangkan dari sumatera atau kalimantan lantaran harus berebut dengan industri besar yang juga mengandalkan kulit sebagai bahan baku produksinya.
Mulai memperhatikan regenerasi perajin wayang
Paguyuban mulai memikirkan eksistensi kerajinan wayang kulit dan turunnya dengan menyiapkan regenerasi. Muatan lokal tentang kesenian dan kerajinan wayang mulai diajarkan di kelas 4 sekolah dasar (SD). Bahkan, paguyuban akan menyediakan kursus gratis agar kesenian adiluhung ini tidak musnah dari Indonesia.
(Amril Amarullah (Okezone))
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.