DESAINER senior Indonesia, Edward Hutabarat, yang dikenal atas kecintaannya pada batik membuka awal tahun dengan sebuah pergelaran busana dan pameran. Pergelaran busana dan pameran tersebut bertajuk ‘Batik Journey’.
Acara tersebut juga menjadi panggung perjalanan berkarier sang maestro budaya yang sudah melalui rentang waktu hingga 35 tahun. Ketika batik masih dipersepsikan masyarakat sebagai kain yang identik dengan cita rasa tradisional, Edward memperkenalkan koleksi batik siap pakai yang dipresentasikan dengan kreativitas modern dan tetap tidak lekang oleh waktu.
“Pada saat itu, saya berpikir bahwa batik semestinya tidak hanya dikenakan sebagai bawahan untuk kebaya. Batik harus ‘naik kelas’. Kemudian, saya mencoba membuat atasan dan gaun,” ujar Edo, sapaan akrabnya, melalui rilis yang diterima Okezone.
Koleksi tersebut ia beri sentuhan muda dan modern dengan sentuhan “motif bergaris” sebagai signature pada setiap busana, yang kemudian menjadi identitas batik yang kekinian. Jika dulu motif bergaris dibuat dari bahan American cotton, kemudian ditransformasi menggunakan lurik, maka saat ini, Edo melahirkan kembali motif bergaris tersebut dengan teknik batik.
Motif bergaris kini hadir bukan hanya sebagai aksentuasi, tetapi menjadi “pemain utama” berupa lembaran kain utuh yang direkreasi dalam berbagai potongan gaun. Selain itu, koleksi wanita yang bernuansa leisure ini juga banyak menggunakan bahan dari sutra organza yang lebih flowing.
Batik seperti sebuah lukisan. Oleh karena itu, Edo tidak menggunting atau memotong kain batik. Edo memilih pendekatan baru, dengan membuat pola terlebih dahulu. Baru setelah pola itu lahir, kain-kainnya siap untuk dibatik. Ini dilakukan agar proses interaksi dengan para artisan batik itu dilakukan sejak awal.