Akibatnya, persalinan remaja pun dianggap bukan hal yang perlu mendapat perhatian. Padahal, dampak sosial dan kesehatan pernikahan, kehamilan dan persalinan anak ternyata sangat luar biasa. Dan semua ini bukan hanya fenomena pedesaan.
Kasie Kesehatan Keluarga & Gizi Dinkes Kota Yogya dr Fetty Fatchiyah dalam dialog seminar yang diselenggarakan di Stiekes Aisyiyah mengemukakan angka persalinan remaja yang cukup mencengangkan. Tahun 2014, menurutnya, di kota Yogyakara terdapat tujuh anak berusia 10 – 14 tahun yang melahirkan. Untuk yang berusia 15 – 18 tahun terdapat 54 anak.
Meskipun bukan merupakan anak, namun yang melahirkan di bawah usia 20 tahun yakni 18 – 19 tahun mencapai 100 anak. “Pada kasus 2013 bahkan terdapat anak berusia 14 tahun menjadi istri kedua dari bocah lelaki berusia 17 tahun. Dan istri pertama juga baru 15 tahun. Bahkan, kasus 2015, anak berusia 9 tahun sudah hamil,” ungkap Fetty.
Para ahli berpendapat bila pernikahan dini lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Sehingga, dalam bahasa senada Dosen UIN Sunan Kalijaga Dr Ema Marhumah dan Komisioner KPAI Rita Pranawati MA menilai, pernikahan dini perlu dicegah mengingat proses reproduksi perempuan yang belum matang.
“Pasalnya, hubungan seks sebelum usia 18 tahun membuat perempuan berinvestasi pada kanker serviks yang menjadi pembunuh kedua pada perempuan setelah kanker payudara. Dengan masa subur yang lebih lama akan membuat kemungkinan banyak anak adalah hal lain yang harus dipikirkan. Selain itu fakta menunjukkan angka kematian ibu (AKI) melahirkan di Indonesia yang masih tinggi yakni 359 per 100.000 kelahiran, terbanyak disumbang oleh mereka yang menikah dini,” kata keduanya terpisah.
(Vien Dimyati)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.