Lompat batu memang merupakan ajang ketangkasan. Nantinya bila berhasil melompat dengan sempurna, pelompat batu akan didaulat sebagai pembela kampungnya atau disebut samu’i mbanua ketika terjadi perselisihan dengan kampung lain.
"Tetapi, pelompat batu tidak bergantung dari usia berapa, karena sesuai kemampuan saja. Ada yang sudah usia 30 tahun belum bisa, tetapi ada juga usia 12 tahun sudah mampu melompati batu," tuturnya.
Untuk diketahui, bahwa tradisi lompat batu mulanya dilakukan pemuda Nias untuk menunjukkan kedewasaan dan matang secara fisik. Tradisi lompat batu sendiri tidak terdapat di semua wilayah Nias, tetapi di kampung-kampung tertentu, misalnya wilayah Teluk Dalam.
(Tuty Ocktaviany)