POTENSI wisata, seperti kuburan unik dan keindahan panorama alam Desa Terunyan di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, belum dikenal banyak wisatawan. Pasalnya, lokasinya terisolir di sekitar Danau Batur.
Untuk menjangkau lokasi, satu-satunya adalah lewat askes menggunakan sarana angkutan penyeberangan perahu tempel dan dayung. Dari dermaga Kedisan, perjalanan bisa ditempuh sekira 15 menit sedangkan dari dermaga di Desa Terunyan perjalanan memakan waktu separuhnya atau sekira 7 menit.
Dengan merogoh kocek sebesar Rp480 ribu, dari Kedisan, kapal tempel akan mengantarkan wisatawan ke kuburan Trunyan sedangkan jika menggunakan perahu dayung dikenai tarif Rp360 ribu. Sementara, jika berangkat dari Trunyan, tiketnya Rp380 ribu untuk perahu tempel dan Rp260 ribu untuk perahu dayung.
Bagi yang akan menggunakan kendaraan roda dua dan empat, wisatawan harus melewati jalan berliku di antara kaki bukit yang menuntut kehati-hatian pengendara.
Pemandangan alam di sekitar Desa Trunyan terasa memikat tatkala pagi hari atau sore menjelang senja. Bukit-bukit menghijau oleh lebatnya pepohonan dengan keramahan warganya menjadikan Desa Trunyan potret masyarakat Bali masa lampau.
Salah satu objek wisata yang dikenal wisatawan adalah Kuburan Unik Desa Trunyan, tempat di mana mayat manusia dibiarkan tergeletak, tidak dikubur. Anehnya, mayat-mayat, yang merupakan warga setempat, tidak mengeluarkan bau anyir atau busuk layaknya bau mayat. Konon, bau mayat itu terserap oleh pohon trunyan yang cukup besar, tempat dimana mayat-mayat disimpan dan kepala tengkorak diletakkan.
Menjelang akhir tahun ini atau persisnya mulai Oktober, banyak wisatawan asing yang penasaran ingin mengunjungi kuburan Turunyan. "Kalau lagi musiman, seperti hari libur, banyak wisatawan domestik," kata Kepala Desa Trunyan Ketut Sutapa.
"Kuburan unik dirancang sederhana dengan membuat selokan agar mayat tidak tergerus air," kata Sutapa.
Ada tiga kriteria mayat yang disemayamkan di sana. Pertama, yang dianggap suci, meninggal karena sakit dan sudah berkeluarga. Untuk anak-anak juga dibuatkan pekuburan khusus.
Program Desa Terang Hemat Energi
Di pihak lain, jika sebelumnya pada malam hari warga setempat tidak bisa leluasa beraktivitas ke luar rumah karena gelap, kini mereka menyambut gembira dengan dipilihnya desa mereka sebagai kampung terang hemat energi. Warga juga bisa melakukan kegiatan produktif lainnya yang menunjang perekonomian dengan pemanfaatan lampu hemat energi.
Ratuasan lampu hemat energi yang dipasang oleh Philips di sepanjang jalan Desa Trunyan menjadikan desa yang mengandalkan pariwisata dan pertanian itu makin dinamis. "Ini bentuk kepedulian sosial kami melalui program CSR. Sebelumnya, program ini dilakukan di Karangasem pada tahun 2010," papar Marketing Manager Philips Indonesia, Andika.
Dipilihnya Desa Trunyan karena dari aspek ekonomi masih sangat rendah meski berbasis pariwisata. Pihaknya berharap, penghematan yang dilakukan masyarakat hingga 80 persen bisa meringankan beban pengeluaran sehari-hari sehingga taraf hidup masyarakat bisa lebih meningkat.
(Fitri Yulianti)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.