Karena itu, pelari sebaiknya tak hanya memperhatikan jarak dan durasi latihan, tetapi juga kondisi lingkungan serta kualitas udara sebelum mulai berlari.
Selain berdampak pada saluran pernapasan, berlari di lingkungan berpolusi juga dapat membuat detak jantung atau heart rate lebih tinggi. Akibatnya, tubuh bisa bekerja lebih keras untuk menjalankan aktivitas yang sama. Kondisi ini dapat membuat latihan terasa lebih berat, terutama bagi pelari yang sedang menjalani program dengan jarak tempuh panjang.
“Impact selain itu, kalau kita lari di lingkungan berpolusi adalah heart rate-nya akan sedikit lebih tinggi. Karena kita menghirup polutan-polutan yang masuk ke paru dan akhirnya, padahal kita lagi butuh oksigen untuk latihan,” ujar dr. Tirta.
Dokter Tirta menyarankan agar pelari mempertimbangkan waktu latihan ketika lalu lintas kendaraan belum ramai. Meski begitu, waktu yang lebih pagi tidak selalu menjamin kualitas udara lebih baik karena tingkat polusi juga dipengaruhi kondisi cuaca, lokasi, dan sumber pencemar lainnya.
Oleh sebab itu, memeriksa indeks kualitas udara sebelum berolahraga menjadi langkah penting. Jika kualitas udara sedang buruk, pelari dapat mempertimbangkan untuk berlatih di dalam ruangan, misalnya menggunakan treadmill di gym.