PENGGUNAAN deodoran kerap dikaitkan dengan munculnya benjolan di ketiak hingga risiko kanker payudara. Kekhawatiran ini muncul karena sejumlah produk perawatan tubuh mengandung aluminium dan paraben yang kerap disebut-sebut berbahaya bagi kesehatan.
Namun, benarkah penggunaan deodoran dapat memicu kanker payudara? Ataukah anggapan itu hanya mitos semata?
Meski demikian, masyarakat tetap perlu memperhatikan perubahan pada area ketiak dan payudara. Terutama jika muncul benjolan yang tidak biasa.
National Cancer Institute dan American Cancer Society juga menyatakan bahwa penelitian yang tersedia belum menunjukkan hubungan yang meyakinkan antara penggunaan deodoran atau antiperspiran dan kanker payudara. dr. Andi Sitti Tandina menjelaskan, aluminium dan paraben memiliki fungsi berbeda dalam produk perawatan tubuh.
Aluminium umumnya digunakan sebagai bahan aktif dalam antiperspiran untuk membantu mengurangi produksi keringat yang mencapai permukaan kulit. Sementara itu, paraben merupakan kelompok bahan pengawet yang digunakan dalam sejumlah produk kosmetik untuk membantu mencegah pertumbuhan mikroorganisme.
Kedua bahan tersebut pernah menjadi perhatian dalam penelitian mengenai kemungkinan kaitannya dengan kanker payudara. Aluminium sempat dikaitkan dengan dugaan efek menyerupai hormon estrogen, sedangkan paraben juga diketahui memiliki aktivitas estrogenik yang lemah dalam penelitian laboratorium.
Meski demikian, dugaan tersebut belum membuktikan bahwa penggunaan produk yang mengandung kedua bahan tersebut menyebabkan kanker payudara pada manusia. Karena itu, masyarakat tidak perlu langsung menganggap deodoran sebagai penyebab kanker. Benjolan di ketiak atau payudara dapat memiliki beragam penyebab dan perlu dinilai berdasarkan kondisi klinis masing-masing.
“Di dalam deodoran terdapat beberapa bahan, di antaranya aluminium dan paraben. Aluminium berfungsi untuk membantu mengurangi produksi keringat, sedangkan paraben digunakan sebagai bahan pengawet dalam produk kosmetik,” ujar dr. Andi Sitti Tandina.
“Namun, berdasarkan penelitian, belum ditemukan hubungan langsung yang meyakinkan antara penggunaan deodoran dan kanker payudara,” lanjutnya.
Munculnya benjolan di ketiak sering menimbulkan kekhawatiran, terutama ketika dikaitkan dengan kanker payudara. Padahal, benjolan di area tersebut tidak selalu menandakan penyakit ganas.
Menurut dr. Andi Sitti Tandina, benjolan yang muncul di kulit dapat berkaitan dengan iritasi atau kondisi kulit lainnya. Benjolan juga dapat berasal dari jaringan di bawah kulit, termasuk pembesaran kelenjar getah bening.
Untuk mengetahui penyebabnya, diperlukan pemeriksaan yang sesuai. Bentuk, ukuran, lokasi, konsistensi, serta perubahan benjolan dari waktu ke waktu dapat menjadi pertimbangan dokter dalam menentukan pemeriksaan lanjutan.
“Terkait benjolan yang muncul, kita perlu mengetahui terlebih dahulu jenis benjolannya. Apakah benjolan tersebut berada di kulit atau berasal dari kelenjar getah bening?” ucap dr. Andi Sitti Tandina.
“Jika benjolan berada di kulit, salah satu kemungkinan penyebabnya adalah iritasi. Namun, tentu saja, ada kemungkinan penyebab lainnya sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” tutupnya.
(Djanti Virantika)