Kisah Pilu dari Samarinda, Bayi Meninggal Usai Sesak Napas Diduga Akibat Asap Karhutla

Djanti Virantika, Jurnalis
Jum'at 16 Oktober 2026 13:05 WIB
Bayi meninggal dunia usai sesak napas di Samarinda. (Foto: iNews)
Share :

3. Penyebab Kematian Masih Perlu Dipastikan

Meski keluarga menduga paparan kabut asap karhutla menjadi pemicu sesak napas yang dialami korban, penyebab pasti kematian bayi tersebut masih memerlukan konfirmasi medis resmi.

Keterangan dari pihak rumah sakit dan Dinas Kesehatan setempat diperlukan untuk memastikan kondisi medis yang dialami korban dan mengetahui apakah terdapat hubungan langsung antara paparan asap dan kematiannya.

Kabut asap akibat karhutla sendiri dapat mengandung partikel halus dan berbagai polutan yang berisiko mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan. Bayi dan anak-anak termasuk kelompok yang rentan karena sistem pernapasan mereka masih berkembang.

Karena itu, masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak asap diimbau untuk mengurangi paparan asap sebisa mungkin dan memperhatikan kondisi kesehatan anggota keluarga, khususnya bayi, anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.

Jika bayi mengalami sesak napas, napas cepat atau tampak kesulitan bernapas, orangtua perlu segera mencari pertolongan medis darurat.

4. Ada Puluhan Ribu Kasus ISPA terhadap Balita

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkap dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat. Berdasarkan data PHEOC Kemenkes pada 11 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Indonesia mencapai 277.075 kasus yang dilaporkan terjadi di 63 kabupaten/kota di 7 provinsi terdampak.

Kasus ISPA yang dialami oleh balita pun tercatat mencapai puluhan ribu. Kemenkes menyebut ada 62.400 kasus ISPA yang dialami oleh balita 0-5 tahun.

Asap karhutla memang mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun. Paparannya bukan hanya menyebabkan ISPA, tetapi juga iritasi mata/kulit, perburukan asma dan PPOK, serta peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.

“Perlindungan diutamakan bagi kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma/PPOK, serta pekerja luar ruangan,” tulis Kemenkes di Instagram resminya.

(Djanti Virantika)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya