KISAH pilu datang dari Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Seorang bayi dari Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas berat.
Paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar permukiman diduga menjadi salah satu pemicu. Hingga akhirnya, kondisi kesehatan bayi tersebut memburuk.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, bayi tersebut awalnya mengalami keluhan sesak napas. Melihat kondisi sang buah hati yang mengkhawatirkan, keluarga segera membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.
Namun, kondisi korban terus memburuk. Tim medis kemudian memindahkan bayi tersebut ke ruang Intensive Care Unit (ICU) agar mendapat penanganan lebih intensif.
Sayangnya, upaya medis yang dilakukan tidak berhasil menyelamatkan nyawa korban. Bayi tersebut dinyatakan meninggal dunia pada hari berikutnya. Peristiwa tragis tersebut menyisakan duka mendalam bagi keluarga.
Kakek korban, Sarno, menuturkan bahwa kabut asap karhutla menyelimuti lingkungan tempat tinggal mereka. Asap bahkan disebut masuk hingga ke dalam rumah sehingga membuat kondisi udara di sekitar permukiman terasa pekat.
Sarno menuturkan pekatnya kabut asap karhutla yang masuk dan menyelimuti kawasan permukiman mereka diduga kuat menjadi pemicu utama memburuknya pernapasan sang cucu.
"Asapnya masuk sampai ke dalam rumah, lingkungan menyelimuti pekat. Cucu saya langsung sesak napas," ujar Sarno di rumah duka, Kamis (15/10/2026).