Kisah Pilu dari Samarinda, Bayi Meninggal Usai Sesak Napas Diduga Akibat Asap Karhutla

Djanti Virantika, Jurnalis
Jum'at 16 Oktober 2026 13:05 WIB
Bayi meninggal dunia usai sesak napas di Samarinda. (Foto: iNews)
Share :

KISAH pilu datang dari Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Seorang bayi dari Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas berat.

Paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar permukiman diduga menjadi salah satu pemicu. Hingga akhirnya, kondisi kesehatan bayi tersebut memburuk.

1. Kronologi Kejadian

Berdasarkan informasi yang dihimpun, bayi tersebut awalnya mengalami keluhan sesak napas. Melihat kondisi sang buah hati yang mengkhawatirkan, keluarga segera membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.

Namun, kondisi korban terus memburuk. Tim medis kemudian memindahkan bayi tersebut ke ruang Intensive Care Unit (ICU) agar mendapat penanganan lebih intensif.

Sayangnya, upaya medis yang dilakukan tidak berhasil menyelamatkan nyawa korban. Bayi tersebut dinyatakan meninggal dunia pada hari berikutnya. Peristiwa tragis tersebut menyisakan duka mendalam bagi keluarga.

2. Kabut Asap Menyelimuti Permukiman

Kakek korban, Sarno, menuturkan bahwa kabut asap karhutla menyelimuti lingkungan tempat tinggal mereka. Asap bahkan disebut masuk hingga ke dalam rumah sehingga membuat kondisi udara di sekitar permukiman terasa pekat.

Sarno menuturkan pekatnya kabut asap karhutla yang masuk dan menyelimuti kawasan permukiman mereka diduga kuat menjadi pemicu utama memburuknya pernapasan sang cucu.

"Asapnya masuk sampai ke dalam rumah, lingkungan menyelimuti pekat. Cucu saya langsung sesak napas," ujar Sarno di rumah duka, Kamis (15/10/2026).

 

3. Penyebab Kematian Masih Perlu Dipastikan

Meski keluarga menduga paparan kabut asap karhutla menjadi pemicu sesak napas yang dialami korban, penyebab pasti kematian bayi tersebut masih memerlukan konfirmasi medis resmi.

Keterangan dari pihak rumah sakit dan Dinas Kesehatan setempat diperlukan untuk memastikan kondisi medis yang dialami korban dan mengetahui apakah terdapat hubungan langsung antara paparan asap dan kematiannya.

Kabut asap akibat karhutla sendiri dapat mengandung partikel halus dan berbagai polutan yang berisiko mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan. Bayi dan anak-anak termasuk kelompok yang rentan karena sistem pernapasan mereka masih berkembang.

Karena itu, masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak asap diimbau untuk mengurangi paparan asap sebisa mungkin dan memperhatikan kondisi kesehatan anggota keluarga, khususnya bayi, anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.

Jika bayi mengalami sesak napas, napas cepat atau tampak kesulitan bernapas, orangtua perlu segera mencari pertolongan medis darurat.

4. Ada Puluhan Ribu Kasus ISPA terhadap Balita

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkap dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat. Berdasarkan data PHEOC Kemenkes pada 11 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Indonesia mencapai 277.075 kasus yang dilaporkan terjadi di 63 kabupaten/kota di 7 provinsi terdampak.

Kasus ISPA yang dialami oleh balita pun tercatat mencapai puluhan ribu. Kemenkes menyebut ada 62.400 kasus ISPA yang dialami oleh balita 0-5 tahun.

Asap karhutla memang mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun. Paparannya bukan hanya menyebabkan ISPA, tetapi juga iritasi mata/kulit, perburukan asma dan PPOK, serta peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.

“Perlindungan diutamakan bagi kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma/PPOK, serta pekerja luar ruangan,” tulis Kemenkes di Instagram resminya.

(Djanti Virantika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya