KELUARGA memiliki peran penting dalam membantu orang yang alami skizofrenia untuk mendapatkan pertolongan dan menjalani proses pemulihan. Pengetahuan yang cukup mengenai kesehatan jiwa dinilai dapat membantu keluarga mengenali gejala sejak dini.
Dengan pengetahuan tersebut, tindakan pemasungan juga bisa dicegah. Lantas, seperti apa langkah yang bisa dilakukan keluarga jika mendapati orang di sekitarnya alami skizofrenia?
Menurutnya, keluarga perlu memahami tanda-tanda yang muncul sehingga dapat segera mencari pertolongan profesional. Ia menambahkan, keluarga juga perlu mewaspadai gejala seperti mendengar suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian. Sebaiknya, keluarga juga segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jiwa.
“Kalau anggota keluarganya lebih dari dua minggu itu kok enggak bisa tidur, gelisah, terus mengurung diri. Nah, perlu ditanya dulu,” ujar Anto.
Menurut Anto, pertolongan sedini mungkin penting ketika seseorang mulai menunjukkan gejala gangguan jiwa berat. Keluarga dapat membawa anggota keluarga tersebut ke psikiater atau fasilitas layanan kesehatan jiwa.
Anto menjelaskan, penanganan pada kondisi akut dan pengobatan yang tepat dapat membantu menstabilkan kondisi pasien. Selain itu, langkah tersebut juga bisa mengurangi risiko kekambuhan serta meningkatkan peluang pemulihan.
“Jadi memang idealnya harus segera mengakses, harus pergi ke psikiater dan mendapatkan pengobatan,” tutur Anto.
Namun, proses mencari pertolongan tidak selalu mudah. Salah satu hambatan yang masih ditemukan adalah penolakan atau rasa malu. Hal itu bisa muncul dari orang yang mengalami gangguan jiwa maupun keluarganya.
Anto mengatakan stigma terhadap gangguan kesehatan jiwa masih menjadi salah satu persoalan yang perlu diatasi. Tidak sedikit keluarga yang merasa malu membawa anggota keluarganya ke psikiater atau mengakses layanan psikologi.
Bahkan, berdasarkan pengalamannya mendampingi komunitas, ia menemukan kasus ketika keluarga justru melarang anggota keluarganya mengonsumsi obat yang telah diberikan tenaga medis. Karena itu, edukasi mengenai kesehatan jiwa dinilai penting agar masyarakat paham gangguan jiwa merupakan kondisi kesehatan yang butuh perhatian dan penanganan, bukan sesuatu yang harus disembunyikan.
“Stigma itu sedemikian di mana-mana. Karena menurut berbagai ahli itu menyebutkan bahwa stigma itu justru menjadi penghalang terbesar dari proses help seeking, proses mencari pertolongan menuju pengobatan,” jelas Anto.
Anto juga menekankan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap orang dengan gangguan kesehatan jiwa. Menurutnya, seseorang yang mengalami skizofrenia tetap memiliki martabat yang sama dengan orang lain.
Kondisi kesehatan jiwa tidak seharusnya menjadi alasan seseorang mendapatkan perlakuan yang berbeda atau direndahkan. Ia mengibaratkan gangguan jiwa seperti kondisi kesehatan lainnya, misalnya diabetes atau kanker, yang juga membutuhkan pengobatan dan dukungan.
“Seperti orang yang mengalami diabetes, seperti orang yang mengalami kanker, seperti orang yang mengalami masalah kesehatan yang lain, harusnya diberlakukan seperti itu,” tutur Anto.
Setelah menjalani pengobatan dan diperbolehkan pulang, dukungan keluarga tetap dibutuhkan. Pemulihan tidak berhenti ketika seseorang keluar dari rumah sakit atau kondisi gejalanya mulai membaik.
Keluarga perlu membantu memastikan anggota keluarga tetap mendapatkan perawatan sesuai anjuran tenaga kesehatan. Jika pasien mendapatkan obat, penggunaannya perlu mengikuti petunjuk dokter dan tidak dihentikan atau diubah secara sepihak.
Keluarga juga perlu memperhatikan perubahan kondisi dan perilaku yang muncul. Jika terdapat tanda-tanda kekambuhan atau kondisi memburuk, keluarga sebaiknya segera berkonsultasi kembali dengan tenaga kesehatan.
Hal tidak kalah penting, lingkungan rumah perlu dibuat aman dan suportif. Komunikasi yang baik, penerimaan, serta menghindari pemberian label negatif dapat membantu seseorang menjalani proses pemulihan dengan lebih baik.
(Djanti Virantika)