Jangan Asal Cukur Habis Bulu Kemaluan, Ini Cara Aman Rawat Area Sensitif

Niko Prayoga , Jurnalis
Rabu 07 Oktober 2026 23:05 WIB
Cukur bulu kemaluan. (Foto: Freepik)
Share :

TREN merawat kebersihan area sensitif atau pubic hair grooming kerap menjadi perdebatan tersendiri. Sebagian orang memilih mencukurnya hingga licin, melakukan waxing, atau sekadar merapikannya. Namun, bagaimana sebenarnya pandangan medis mengenai kebiasaan ini?

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama, meluruskan anggapan keliru mengenai keberadaan bulu kemaluan yang sering dianggap mengganggu atau kotor. Lewat unggahan di akun Instagram pribadinya, ia menegaskan bahwa bulu kemaluan memiliki peran fisiologis yang penting bagi tubuh.

“Pertama, aku mau lurusin dulu, bulu kemaluan itu bukan kotoran. Pubic hair itu punya fungsi alami. Salah satunya adalah membantu mengurangi gesekan pada kulit area genital dan memberikan perlindungan pada kulit yang sensitif,” ujar dr. Aditya.

1. Tidak Ada Kewajiban Bulu Kemaluan Dicukur Habis

Menurutnya, tidak ada indikasi atau kewajiban medis yang mengharuskan seseorang mencukur bulu kemaluan hingga bersih total. Malah, tindakan mencukur yang tidak hati-hati menyimpan risiko cedera yang cukup tinggi pada kulit area sensitif.

dr. Aditya membeberkan data dari riset JAMA Dermatology terhadap 5.674 orang yang melakukan pubic hair grooming. Hasil studi menemukan bahwa sebanyak 25,6 persen responden pernah mengalami cedera akibat proses mencukur atau merapikan bulu kemaluan.

“Dan cedera yang paling banyak dilaporkan adalah luka atau laceration, sekitar 61,2% dari cedera. Kemudian burn itu 23% dan ruam 12,2%. Bahkan, 1,4% dari seluruh groomer sampai membutuhkan pertolongan medis. Berarti ini ada case yang harus diperhatikan,” terangnya.

2. Risiko yang Berpotensi Muncul

dr. Aditya menambahkan, teknik mencukur yang terlalu menempel pada permukaan kulit berpotensi menimbulkan mikroluka, iritasi, razor burn, folikulitis (peradangan folikel rambut), hingga ingrown hair atau rambut tumbuh ke dalam. Ketika lapisan pelindung kulit (skin barrier) di area genital rusak, akses masuk mikroorganisme penyebab infeksi menjadi jauh lebih terbuka.

“Makanya para peneliti juga mengingatkan, cedera di area genital itu dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, termasuk infeksi menular seksual,” tegasnya.

Bagi mereka yang menyukai metode waxing, dr. Aditya menyebut teknik ini memang efektif mencabut rambut hingga ke akar sehingga hasilnya bertahan lebih lama. Meski begitu, waxing tetap membawa risiko iritasi atau luka jika teknik yang diterapkan salah atau aspek higienitasnya terabaikan.

Menariknya, studi JAMA Dermatology mencatat bahwa pada perempuan, metode waxing justru berkaitan dengan tingkat cedera berulang yang lebih rendah dibandingkan penggunaan pisau cukur manual atau non-elektrik.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya