Intoleransi Laktosa dan Alergi Susu Sapi, Ternyata Ini Bedanya Moms!

Nurrizka Nasywa Tsabitah, Jurnalis
Senin 05 Oktober 2026 19:05 WIB
Ilustrasi intoleransi laktosa. (Foto: dok Magnific)
Share :

JAKARTA - Istilah alergi laktosa mungkin masih sering terdengar ketika membahas kondisi anak yang mengalami masalah setelah mengonsumsi susu. Namun, sebenarnya tak ada istilah alergi laktosa dalam dunia medis.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Ardi Santoso, menjelaskan istilah yang tepat adalah intoleransi laktosa atau alergi protein susu sapi. Meski sama-sama berkaitan dengan konsumsi susu, kedua kondisi tersebut memiliki penyebab dan penanganan yang berbeda.

Pada alergi protein susu sapi, tubuh mengalami reaksi terhadap protein yang terdapat di dalam susu sapi. Protein susu perlu dihindari sepenuhnya oleh anak yang telah terdiagnosis mengalami kondisi tersebut agar tak muncul reaksi alergi.

Dengan demikian, anak yang mengalami alergi protein susu sapi perlu menjalani pola makan dengan mengeliminasi sumber protein tersebut dari menu hariannya. Hal ini berbeda dengan anak yang mengalami intoleransi laktosa.

Pada intoleransi laktosa, tubuh mengalami kesulitan dalam mencerna laktosa atau gula alami yang terdapat dalam susu. Meski demikian, anak dengan kondisi ini biasanya masih dapat menoleransi susu maupun produk olahannya dalam jumlah tertentu.

“Sedangkan pada intoleransi laktosa, anak biasanya masih bisa menoleransi susu atau produk turunannya seperti yogurt atau keju asalkan dalam jumlah tertentu,” kata dr. Ardi dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, dikutip Senin (5/10/2026).

Menariknya, intoleransi laktosa pada anak di atas usia tiga tahun, khususnya pada anak Asia atau Indonesia, disebut sebagai kondisi yang tergolong normal. Hal tersebut berkaitan dengan faktor genetik yang membuat produksi enzim laktase berkurang secara bertahap seiring bertambahnya usia.

“Fakta menariknya nih untuk anak Asia atau Indonesia di atas usia 3 tahun, itu biasanya mengalami intoleransi laktosa itu tergolong normal. Kenapa? Karena secara genetik kehadiran enzim laktase pada anak Asia memang akan berkurang secara bertahap,” ujarnya.

Dokter Ardi juga menjelaskan, penanganan anak yang mengalami alergi protein susu sapi juga tidak bisa disamakan dengan intoleransi laktosa. Khususnya bagi bayi yang tidak mendapatkan ASI, pemilihan formula harus dilakukan secara tepat.

Jika anak telah terdiagnosis mengalami alergi protein susu sapi, pemberian susu bebas laktosa saja tidak cukup. Formula yang digunakan perlu berupa formula dengan protein yang terhidrolisis sempurna atau formula berbasis asam amino.

Pada formula tersebut, protein telah dipecah menjadi bagian yang lebih kecil atau bahkan dalam bentuk asam amino. Hal ini berbeda dengan formula bebas laktosa yang hanya menghilangkan atau mengurangi kandungan laktosa, bukan protein susu sapi yang dapat memicu alergi.

Meski terlihat memiliki masalah yang serupa, intoleransi laktosa dan alergi protein susu sapi sebenarnya memiliki akar masalah yang berbeda. Oleh karena itu, orang tua perlu memahami perbedaannya agar tidak keliru dalam menentukan penanganan.

“Gejalanya mungkin terlihat mirip ya, tapi akar masalahnya berbeda, jadi harus jeli banget,” ucap dr. Ardi.

Untuk memastikan kondisi dan penanganan yang tepat, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter, terutama jika anak menunjukkan reaksi setelah mengonsumsi susu atau produk turunannya.

(Agustina Wulandari )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya