GIGI berlubang pada anak kerap dianggap masalah sepele yang bisa membaik seiring tumbuhnya gigi dewasa. Namun, orangtua kini harus lebih waspada.
Masalah kebersihan mulut yang terabaikan ternyata dapat menjadi pintu masuk bagi gangguan organ vital. Salah satunya memicu penyakit jantung di usia muda.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono mengingatkan bahwa bakteri dari infeksi gigi berlubang bisa menyebar melalui aliran darah dan merusak katup jantung anak.
"Kenapa ini penting kesehatan gigi? Karena kesehatan gigi bukan cuma soal kesehatan mulut saja, tapi kesehatan gigi itu berkaitan dengan penyakit sistemik lainnya," kata Dante saat diwawancarai usai menghadiri acara Pekan Kesehatan Gigi Nasional di SDN 01 Menteng, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Dante menjelaskan, jenis kuman tertentu yang bersarang di rongga gigi berlubang menjadi ancaman nyata bagi kesehatan jantung si kecil.
"Tadi saya sampaikan salah satunya adalah kesehatan jantung. Ada namanya kuman Streptococcus beta-hemolyticus Grup A. Ini yang ada di gigi yang berlubang yang bisa menyebabkan kelainan katup di jantung, namanya penyakit jantung rematik," jelas dia.
Dante menambahkan, dampak infeksi ini tidak boleh dipandang sebelah mata karena bisa berlanjut hingga anak tumbuh dewasa. Dimana, kondisi tersebut bisa menyebabkan jantung rematik dan mengganggu kesehatan jantung pada usia muda.
“Nah, kalau penyakit jantung rematik ini menyerang anak-anak karena giginya berlubang, maka kesehatan anak-anak itu menjadi terganggu dan ini biasanya muncul penyakit jantungnya pada usia muda," lanjut Dante.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar Kemenkes, temuan kasus gigi berlubang pada anak-anak di Indonesia tergolong sangat tinggi. Hal tersebut juga yang mendasari bahwa edukasi kesehatan gigi lebih masif dilakukan di ranah sekolah.
"Kenapa kita mulai di sekolah, bukan di fasilitas kesehatan? Karena pada saat kita melakukan cek kesehatan gratis, itu yang kita temukan masalahnya justru pada anak-anak kesehatan gigi itu. Jadi, kita ketemu 41% anak-anak di Indonesia yang diperiksa giginya itu mempunyai gigi lubang. Jadi 4 dari 10 anak-anak mempunyai gigi lubang. Makanya kita gerakkan kesehatan gigi di sekolah," tutur dia.
Guna mengantisipasi dampak buruk tersebut, Kemenkes menggalakkan gerakan preventif dan promotif di lingkungan sekolah. Langkah paling sederhana dimulai dengan membenarkan teknik dan waktu menyikat gigi harian anak.
"Salah satunya adalah gerakan preventif dan promotif. Preventifnya gimana? Supaya email giginya enggak rusak, lapisan giginya nggak rusak, mereka harus menyikat gigi yang benar. Kemudian yang kedua, waktu menyikat gigi juga harus benar. Itu biasanya kita anjurkan sesudah sarapan dan sebelum tidur, supaya giginya bersih, tidak tersisa makanan," beber Dante.
Tak hanya mengedukasi dari sisi kebiasaan, Kemenkes juga menginisiasi adanya ‘Detektif Gigi Berlubang' yang melibatkan peran aktif para siswa di sekolah dan memberdayakan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang ada.
"Anak-anak di UKS diajarkan untuk menjadi 'Detektif Gigi Berlubang' supaya mereka bisa periksa teman-temannya. Kita ajarin, ada kurikulumnya, kita udah buat modul kurikulum untuk sekolah dari Kementerian Kesehatan untuk lihat, 'Oh ini giginya masih lubang'. Nanti kalau ketemu gigi yang berlubang, dilaporkan ke gurunya, gurunya bisa melakukan rujukan ke Puskesmas terdekat," pungkas dia.
(Djanti Virantika)