Akun tersebut mengaitkannya dengan hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam proses pembentukan dan penyimpanan memori.
Namun, penjelasan itu mendapat koreksi dari dokter Tubagus Siswadi. Ia menilai hubungan antara keracunan makanan dan kerusakan hipokampus akibat kekurangan oksigen belum bisa langsung disimpulkan hanya berdasarkan informasi yang beredar.
“Penjelasan ini mungkin terjadi, tapi terlalu cepat kalau langsung disimpulkan hilang ingatannya karena hipokampus rusak akibat kekurangan oksigen,” tulisnya.
Menurut Tubagus, keracunan berat memang dapat menyebabkan muntah dan diare yang kemudian berujung pada dehidrasi hingga tekanan darah turun atau syok hipovolemik.
Namun, gangguan kesadaran setelah keracunan bisa memiliki berbagai kemungkinan penyebab lain. Kondisi lain yang perlu dipertimbangkan misalnya, gangguan elektrolit, gula darah, gagal ginjal atau uremia, kejang, hingga hipoksia.
Karena itu, menurut Tubagus, kondisi pasien ketika mengalami gangguan kesadaran perlu dilihat secara menyeluruh. Ia mempertanyakan apakah pasien sempat mengalami hipotensi berat, penurunan saturasi oksigen, kejang, gangguan elektrolit, memburuknya fungsi ginjal, maupun temuan neurologis tertentu.