Erupsi Anak Krakatau, Ini Bahaya Abu Vulkanik Bagi Kesehatan

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis
Minggu 06 September 2026 08:45 WIB
Erupsi Anak Krakatau, Ini Bahaya Abu Vulkanik Bagi Kesehatan (Foto: PVMG)
Share :

JAKARTAErupsi Anak Krakatau tidak hanya menimbulkan material vulkanik di sekitar kawasan gunung, tetapi juga dapat membawa abu ke sejumlah wilayah yang terbawa angin. Paparan abu vulkanik perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan, mata, dan kulit.

Abu vulkanik merupakan material hasil letusan gunung api yang terlontar ke udara dan kemudian dapat terbawa angin ke berbagai arah. Material yang keluar saat erupsi memiliki kandungan yang beragam, mulai dari partikel pasir dan batuan hingga produk letusan seperti belerang.

Ahli Kesehatan Paru Rumah Sakit Omni Alam Sutera Tangerang, Dr. Thahri Iskandar, SpP, mengatakan material yang dikeluarkan saat gunung api mengalami erupsi dapat memberikan dampak berbeda terhadap kesehatan.

“Kandungan yang terdapat dalam abu vulkanik sangat variatif,” kata dia.

Menurut Thahri, material letusan dapat berupa pasir, batu-batuan, produk letusan seperti belerang, hingga awan panas yang kerap disebut wedhus gembel. Berbagai material tersebut dapat berdampak terhadap kesehatan, khususnya organ paru-paru.

“Semuanya sangat berpengaruh terhadap kesehatan, khususnya paru-paru,” ungkapnya.

Bisa Memicu Sesak Napas

Dampak abu vulkanik terhadap saluran pernapasan dipengaruhi oleh jumlah paparan dan posisi seseorang terhadap sumber abu. Semakin dekat dengan material vulkanik dan semakin banyak abu yang terhirup, semakin besar pula risiko gangguan pernapasan.

Menurut Thahri, paparan dalam jumlah banyak dapat menyebabkan pembengkakan pada saluran pernapasan akibat panas yang ditimbulkan material erupsi. Kondisi tersebut dapat memicu sesak napas dan dalam keadaan tertentu bahkan mengancam keselamatan jiwa.

Sementara itu, awan panas yang mencapai atmosfer dapat berkontribusi terhadap terbentuknya hujan asam. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap kesehatan manusia, tetapi juga lingkungan. Kandungan tertentu dalam material tersebut dapat menurunkan kesuburan tanah dan menyebabkan kematian pada hewan.

Sebaliknya, masyarakat yang berada lebih jauh dari sumber abu umumnya memiliki risiko paparan yang lebih rendah. Gejala yang muncul pun dapat lebih ringan dibandingkan mereka yang berada di lokasi dengan paparan abu lebih tinggi.

Berbahaya bagi Penderita Asma dan PPOK

Risiko kesehatan menjadi lebih besar bagi orang yang sebelumnya telah memiliki gangguan pada paru-paru. Pada penderita asma, misalnya, abu vulkanik dapat menjadi pemicu kambuhnya penyakit.

“Abu vulkanik merupakan salah satu pencetus terjadinya serangan asma,” paparnya.

Paparan abu juga dapat memicu munculnya gejala seperti bengek pada penderita asma. Selain itu, masyarakat yang memiliki penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) juga perlu memberikan perhatian lebih terhadap paparan abu vulkanik.

Kelompok anak-anak juga dinilai lebih sensitif terhadap paparan abu dibandingkan orang dewasa. Hal ini berkaitan dengan sistem pernapasan anak yang masih dalam tahap pertumbuhan.

Thahri mengingatkan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit paru agar segera berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami keluhan setelah terpapar abu vulkanik.

Ganggu Mata dan Kulit

Spesialis Paru Rumah Sakit Persahabatan, Dr. Agus Dwi Susanto, SpP, mengatakan dampak abu vulkanik tidak hanya dirasakan oleh sistem pernapasan. Mata dan kulit juga dapat mengalami gangguan akibat paparan material tersebut.

“Secara umum, efek abu vulkanik pada paru akan menyebabkan iritasi karena bersifat asam,” ujarnya.

Iritasi dapat terjadi mulai dari saluran pernapasan bagian atas hingga bawah. Gejala yang muncul antara lain batuk dan bersin. Pada kondisi yang lebih berat, paparan dapat menyebabkan sakit tenggorokan, penumpukan dahak, sesak napas, hingga memperburuk penyakit pernapasan yang sebelumnya sudah dimiliki seseorang.

“Penyakit tersebut bisa terjadi, jika kejadiannya terus-menerus dan bertahun-tahun,” tegasnya.

Agus menambahkan, iritasi pada saluran pernapasan juga dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sementara dalam jangka panjang, paparan debu tertentu dapat menyebabkan penumpukan partikel di paru-paru, termasuk silika, yang berisiko memicu silikosis.

Tidak hanya paru-paru, mata juga dapat terdampak. Paparan abu bisa menyebabkan iritasi yang ditandai dengan mata berair dan pada kondisi tertentu dapat mengganggu penglihatan. Kulit pun dapat mengalami iritasi, seperti gatal-gatal dan erosi, bahkan berisiko mengalami luka bakar akibat material vulkanik yang panas.

“Hindari paparan debu vulkanik dan pergi jauh dari sumber abu vulkanik,” pesannya.

Gunakan Masker untuk Lindungi Pernapasan

Agus mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik untuk meningkatkan perlindungan diri. Salah satunya dengan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel berukuran kecil.

Ia menyarankan penggunaan masker respirator untuk memberikan perlindungan lebih baik terhadap partikel abu. Masker perlu digunakan dengan tepat agar tidak terdapat celah di bagian samping yang memungkinkan debu masuk.

“Masker biasa tipis sehingga tidak bisa memproteksi 100 persen. Walaupun begitu, masker tetap direkomendasikan sebagai alat pelindung diri,” ujar dia.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya