Menurut Thahri, paparan dalam jumlah banyak dapat menyebabkan pembengkakan pada saluran pernapasan akibat panas yang ditimbulkan material erupsi. Kondisi tersebut dapat memicu sesak napas dan dalam keadaan tertentu bahkan mengancam keselamatan jiwa.
Sementara itu, awan panas yang mencapai atmosfer dapat berkontribusi terhadap terbentuknya hujan asam. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap kesehatan manusia, tetapi juga lingkungan. Kandungan tertentu dalam material tersebut dapat menurunkan kesuburan tanah dan menyebabkan kematian pada hewan.
Sebaliknya, masyarakat yang berada lebih jauh dari sumber abu umumnya memiliki risiko paparan yang lebih rendah. Gejala yang muncul pun dapat lebih ringan dibandingkan mereka yang berada di lokasi dengan paparan abu lebih tinggi.
Risiko kesehatan menjadi lebih besar bagi orang yang sebelumnya telah memiliki gangguan pada paru-paru. Pada penderita asma, misalnya, abu vulkanik dapat menjadi pemicu kambuhnya penyakit.
“Abu vulkanik merupakan salah satu pencetus terjadinya serangan asma,” paparnya.
Paparan abu juga dapat memicu munculnya gejala seperti bengek pada penderita asma. Selain itu, masyarakat yang memiliki penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) juga perlu memberikan perhatian lebih terhadap paparan abu vulkanik.
Kelompok anak-anak juga dinilai lebih sensitif terhadap paparan abu dibandingkan orang dewasa. Hal ini berkaitan dengan sistem pernapasan anak yang masih dalam tahap pertumbuhan.