Dante menegaskan bahwa dinamika emosi seperti sedih, cemas, atau sulit tidur adalah hal wajar dalam kehidupan sehari-hari. Namun, jika gejala fisik, emosi, hingga perubahan perilaku seperti sulit berkonsentrasi serta perubahan pola bicara dan aktivitas terjadi secara konsisten selama lebih dari dua minggu, kondisi tersebut wajib diwaspadai.
“Itu dalam waktu dua minggu, nah cut-off point-nya dua minggu. Kalau sewaktu-waktu kita namanya hidup kadang-kadang juga depresi, kadang-kadang juga cemas, kadang-kadang juga susah tidur, tapi kalau ini berlangsung selama dua minggu dari gangguan fisik, emosi, dan perilaku, sulit konsentrasi, perubahan pola bicara dan aktivitas yang mencolok lebih dari dua minggu, maka harus cepat-cepat diidentifikasi sebagai kelainan jiwa,” katanya.
Untuk mencegah kondisi memburuk, ia mengimbau agar segera mengambil langkah aktif begitu menyadari gejala awal tersebut. Menceritakan masalah kepada orang terdekat atau mendatangi profesional kesehatan jiwa menjadi langkah krusial untuk mencegah terjadinya fase krisis, termasuk risiko penanganan yang terlambat seperti tindakan bunuh diri.
“Caranya adalah cari teman mulai dari cari teman bicara dan cari tenaga ahli terdekat yang memang bisa menangani kelainan jiwa. Jangan tunggu sampai krisis. Gejala muncul awal, tidak ditangani, berkembang menjadi krisis. Salah satu krisis yang terjadi dan berbahaya adalah gangguan bunuh diri, dan ini jangan sampai terjadi,” tutur Dante.
(Agustina Wulandari )