Kenali 3 Tanda Awal Gangguan Kesehatan Mental Menurut Kemenkes

Niko Prayoga , Jurnalis
Sabtu 05 September 2026 17:05 WIB
Ilustrasi gangguan kesehatan mental. (Foto: dok Magnific/jcomp)
Share :

JAKARTA - Banyak orang kerap menganggap remeh perubahan emosi atau pola tidur yang terganggu dan menganggapnya sekadar lelah biasa. Padahal, jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, bisa jadi itu merupakan sinyal awal gangguan kesehatan mental yang membutuhkan perhatian serius.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengingatkan pentingnya mengenali tanda-tanda awal gangguan jiwa sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih parah. Menurutnya, bahaya utama dari masalah kesehatan mental sering kali bersumber dari ketidakmampuan seseorang dalam menyadari gejalanya sejak dini.

“Teman-teman sekalian, yang berbahaya bukan saja hanya gangguannya, tetapi karena ketika kita tidak mengenali, maka gangguan jiwa itu akan berkembang," kata Dante dalam Temu Media di RS Soeharto Heerdjan, Jumat (4/9/2026).

3 Indikator Seseorang Mengalami Gangguan Jiwa

Perubahan Fisik 

Ilustrasi gangguan pola tidur. (Foto: dok Magnific/jcomp)

Dante menjelaskan, ada tiga indikator utama yang kerap dialami seseorang saat mengalami gangguan jiwa, yaitu perubahan fisik, gejolak emosi, serta rasa cemas berlebihan. Indikator pertama yang paling sering muncul dapat terlihat langsung pada kondisi fisik tubuh. Salah satu sinyal yang paling dominan adalah terganggunya kualitas tidur.

"Yang muncul dalam bentuk fisik itu yang paling sering ada gangguan pola tidur. Nah, kalau tidurnya udah keganggu, udah susah tidur, nah hati-hati," ucapnya.

Selain masalah tidur, perubahan fisik juga ditandai dengan tubuh yang sering terasa lemas berulang kali serta fluktuasi berat badan yang drastis. “Kemudian merasa lemas berulang, kemudian perubahan berat badan yang tadinya gemuk kok menjadi kurus karena dia nggak mau makan, atau dari kurus jadi gemuk karena dia makan terus sebagai pelampiasan depresinya, itu juga jangan-jangan gangguan jiwa," kata Dante.

Perubahan Suasana Hati

Ilustrasi perubahan suasana hati. (Foto: dok Magnific)

Indikator kedua berfokus adalah perubahan suasana hati (mood) yang berubah secara tajam dalam waktu singkat. Seseorang yang mengalami kondisi ini cenderung menjadi sangat sensitif dan mudah tersinggung oleh hal-hal kecil di sekitarnya.

“Terus emosi, emosi ini gampang tersinggung, dikit-dikit baperan, lihat medsos baper, lihat sekelilingnya temannya ngerasa temannya dapat promosi dia baper, diomongin dikit sama bosnya dia baper. Nah itu, itu suasana hati yang berubah secara tajam dalam waktu beberapa saat itu juga merupakan gangguan jiwa," tuturnya.

Cemas Berlebihan

Ilustrasi cemas berlebihan. (Foto: dok Magnific/DC Studio)

Indikator ketiga ditandai dengan kecemasan berlebih yang membuat seseorang merasa panik dan gelisah secara terus-menerus. Fenomena ini kerap diidentikkan oleh kalangan anak muda sebagai perilaku berpikir berlebihan.

“Cemas yang berlebihan, cemas yang berlebihan sebenarnya overthinking kalau bahasanya Gen Z, jadi panik segala macam, gelisah,” ujar Dante.

Dante menegaskan bahwa dinamika emosi seperti sedih, cemas, atau sulit tidur adalah hal wajar dalam kehidupan sehari-hari. Namun, jika gejala fisik, emosi, hingga perubahan perilaku seperti sulit berkonsentrasi serta perubahan pola bicara dan aktivitas terjadi secara konsisten selama lebih dari dua minggu, kondisi tersebut wajib diwaspadai.

“Itu dalam waktu dua minggu, nah cut-off point-nya dua minggu. Kalau sewaktu-waktu kita namanya hidup kadang-kadang juga depresi, kadang-kadang juga cemas, kadang-kadang juga susah tidur, tapi kalau ini berlangsung selama dua minggu dari gangguan fisik, emosi, dan perilaku, sulit konsentrasi, perubahan pola bicara dan aktivitas yang mencolok lebih dari dua minggu, maka harus cepat-cepat diidentifikasi sebagai kelainan jiwa,” katanya.

Cegah sebelum Terlambat

Untuk mencegah kondisi memburuk, ia mengimbau agar segera mengambil langkah aktif begitu menyadari gejala awal tersebut. Menceritakan masalah kepada orang terdekat atau mendatangi profesional kesehatan jiwa menjadi langkah krusial untuk mencegah terjadinya fase krisis, termasuk risiko penanganan yang terlambat seperti tindakan bunuh diri.

“Caranya adalah cari teman mulai dari cari teman bicara dan cari tenaga ahli terdekat yang memang bisa menangani kelainan jiwa. Jangan tunggu sampai krisis. Gejala muncul awal, tidak ditangani, berkembang menjadi krisis. Salah satu krisis yang terjadi dan berbahaya adalah gangguan bunuh diri, dan ini jangan sampai terjadi,” tutur Dante.

(Agustina Wulandari )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya