Broader konteks riset ini juga memiliki dua catatan penting yang perlu diperhatikan publik. Pertama, evaluasi kualitas tidur dalam studi tersebut murni didasarkan pada laporan mandiri peserta, bukan melalui pengukuran objektif medis.
Kedua, analisis tambahan mengindikasikan bahwa manfaat suplemen ini cenderung lebih terasa signifikan pada individu yang sejak awal memang mengalami defisiensi atau kekurangan asupan magnesium. Melihat hasil tersebut, Vishal menekankan bahwa masyarakat tidak bisa menjadikan suplemen magnesium sebagai jalan pintas penanganan gangguan tidur.
"Namun, temuan ini masih perlu dikonfirmasi. Jadi, magnesium bisglycinate mungkin membantu sebagian orang, tetapi bukan merupakan solusi universal untuk semua masalah tidur," pungkas Vishal.
(Djanti Virantika)