Lisa mengatakan berbagai masalah kesehatan mulai dialaminya sejak sekitar usia 7 tahun. Lisa mengatakan dirinya secara umum terlihat baik-baik saja dan tidak pernah mendapatkan diagnosis yang jelas.
Keluhan tersebut terus berlanjut hingga masa remaja dan dewasa. Ia beberapa kali mencari bantuan medis, tetapi masalah yang dialaminya sering dianggap berkaitan dengan kondisi psikologis.
Lisa mengatakan bahwa beberapa terapis menganggap kondisinya sebagai depresi, meski ia tidak pernah secara resmi didiagnosis mengalami depresi. Selain dugaan depresi, sejumlah kemungkinan lain juga pernah dipertimbangkan, seperti skoliosis, hipotiroidisme, serta anggapan bahwa kondisi tersebut memang merupakan bagian dari keluarganya.
Selama pandemi COVID-19, Lisa mulai mengonsumsi obat antidepresan. Menurutnya, obat tersebut memang sedikit membantu suasana hatinya, tetapi tidak menghilangkan kelemahan fisik dan rasa apatis yang dialaminya.
Setelah aktivitas kembali normal, Lisa berhenti mengonsumsi obat tersebut. Dia mencoba meningkatkan kebugaran dengan berolahraga serta menjalani pola hidup sehat.
Lisa juga mengonsumsi suplemen dan rutin berolahraga. Namun, hasil pemeriksaan darahnya tidak menunjukkan adanya kekurangan nutrisi yang jelas. Sampai akhirnya, pemeriksaan darah terbaru yang dilakukan di Kanada menunjukkan bahwa kadar zat besinya sangat rendah.
Setelah mengetahui kondisi tersebut, Lisa mulai mengonsumsi suplemen zat besi dalam dosis tinggi, bersama sejumlah nutrisi lain seperti vitamin B12, omega-3 dan omega-6, vitamin D, magnesium, serta yodium. Ia berencana menjalani pemeriksaan darah kembali setelah sekitar tiga bulan untuk melihat perkembangan kondisinya.
(Djanti Virantika)