Ketika mengalami kejang absans, seseorang tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Misalnya, mereka tidak akan menyadari jika seseorang mencoba berbicara kepada mereka selama kejang berlangsung.
Jika seseorang sedang berbicara ketika kejang dimulai, mereka akan berhenti berbicara, bahkan dapat berhenti di tengah kalimat. Bagi orang yang melihatnya, kondisi ini mungkin tampak seperti jeda singkat.
Jika kejang absans berlangsung sangat singkat, orang tersebut mungkin bahkan tidak menyadari bahwa dirinya baru saja mengalami kejang. Jika berlangsung sedikit lebih lama, mereka mungkin menyadari bahwa ada sebagian waktu yang tidak mereka ingat.
Frekuensi terjadinya absence seizure sangat bervariasi. Obat antikejang dapat mengendalikan kejang absans pada banyak anak sehingga kejang menjadi jarang atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Namun, sebagian orang dapat mengalami ratusan kejang absans singkat dalam sehari.
Deskripsi mengenai apa yang terjadi sangat penting. Biasanya informasi tersebut berasal dari orang yang menyaksikan kejang, seperti orang tua, guru, atau anggota keluarga lainnya.
Jika kejadian yang dialami mengarah pada kemungkinan kejang atau terdapat gejala lain, dokter dapat meminta pemeriksaan EEG (electroencephalogram/elektroensefalogram). EEG memeriksa aktivitas listrik otak untuk mencari pola yang biasanya terlihat pada kejang absans. Pada orang yang mengalami kejang absans dan belum mengonsumsi obat antikejang, EEG umumnya menunjukkan pola abnormal yang mendukung diagnosis tersebut.
Selama pemeriksaan EEG, pasien mungkin diminta bernapas dengan cepat atau menutup mata, sementara lampu berkedip cepat dapat digunakan. Hal-hal tersebut dapat membantu memunculkan pola kejang absans pada hasil EEG.
(Djanti Virantika)