KABAR buruk datang dari bintang Bayern Munich, Jamal Musiala. Pemain berusia 23 tahun itu mengalami kolaps di lapangan saat membela Bayern Munich belum lama ini.
Tak hanya sekali, Jamal Musiala bahkan mengalami kolaps sampai 2 kali. Kejadian pertama ketika Bayern Munich menghadapi RB Leipzig pada Sabtu 15 Agustus 2026. Beberapa hari kemudian, kejadian serupa kembali terjadi saat Bayern melawan Heidenheim.
Dalam laga melawan Heidenheim, Musiala bahkan diketahui baru beberapa menit berada di lapangan. Namun, dia tiba-tiba terjatuh dan alami kolaps. Musiala pun langsung mendapat pertolongan medis dan dibantu meninggalkan lapangan.
Alami 2 kali kolaps saat bertanding membuat publik bertanya-tanya soal kondisi yang dialami Jamal Musiala. Ternyata, dia mengalami absence seizure. Lantas, apa itu kondisi neurologis absence seizure? Mari mengulasnya dalam artikel ini.
Dilansir dari Epilepsy.com, absence seizure atau kejang absans merupakan jenis kejang yang dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan kesadaran secara singkat. Kondisi ini dapat membuat seseorang tiba-tiba berhenti beraktivitas, menatap kosong, atau tidak merespons lingkungan di sekitarnya untuk beberapa saat.
Kejang absans lebih sering ditemukan pada anak-anak, tetapi juga dapat terjadi pada orang dewasa. Pada kasus Jamal Musiala, istilah yang digunakan untuk menjelaskan kondisinya adalah episode absans yang singkat dan dapat ditangani. Detail mengenai penyebab spesifik gangguan neurologis yang dialaminya belum dipublikasikan secara lengkap.
Kejang absans menyebabkan seseorang mengalami periode singkat seperti “blank” atau menatap kosong ke suatu arah. Seperti jenis kejang lainnya, kejang absans disebabkan oleh aktivitas listrik abnormal yang berlangsung singkat di otak.
Kejang absans merupakan kejang dengan onset umum (generalized onset seizure), yang berarti kejang dimulai secara bersamaan di kedua sisi otak. Kejang absans biasanya hanya memengaruhi kesadaran seseorang terhadap apa yang terjadi selama kejang, kemudian penderita segera kembali normal.
Ada dua jenis kejang absans atau absence seizure yang dapat terlihat sedikit berbeda. Keduanya berlangsung singkat dan sering kali tidak langsung disadari.
Pertama, ada kejang absans tipikal yang merupakan jenis yang paling umum. Orang tersebut tiba-tiba menghentikan aktivitas yang sedang dilakukan tanpa peringatan. Mereka mungkin tampak menatap kosong atau menunjukkan ekspresi tanpa respons.
Kejang absans tipikal membuat mata dapat bergerak ke atas dan kelopak mata dapat berkedut. Kejang biasanya berlangsung kurang dari 10–20 detik. Orang tersebut mungkin mengalami kebingungan sesaat selama beberapa detik, kemudian kembali normal.
Kedua, ada kejang absans atipikal. Kejang ini disebut atipikal karena dapat berlangsung lebih lama, memiliki awal dan akhir yang lebih lambat, serta melibatkan gejala yang berbeda.
Kejang biasanya tetap diawali dengan tatapan kosong. Umumnya terjadi perubahan tonus otot dan gerakan. Tanda lainnya dari kejang ini adalah mata yang berkedip berulang kali, mengecapkan bibir atau melakukan gerakan seperti mengunyah, menggosok-gosokkan jari atau melakukan gerakan tertentu dengan tangan, dan kejang absans atipikal dapat berlangsung 20 detik atau lebih.
Kejang absans paling sering terjadi pada anak-anak berusia 4–14 tahun. Namun, remaja yang lebih tua dan orang dewasa juga dapat mengalaminya.
Sebagian orang mengalami kejang absans selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun sebelum kondisi tersebut dikenali. Beberapa penyebab keterlambatan pengenalan antara lain kejang absans sering disalahartikan sebagai melamun atau tidak memperhatikan.
Kondisi ini paling sering terjadi pada anak-anak, sementara masalah sulit berkonsentrasi juga umum terjadi pada anak. Karena melamun dapat terjadi dalam berbagai situasi di sekolah, terkadang sulit menentukan apakah tatapan kosong tersebut merupakan kejang atau sekadar melamun.