JAKARTA - Kementerian Pariwisata bersama dengan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) mengungkapkan laporan kerusakan pada beberapa fasilitas pariwisata seperti resto hotel, lokasi pariwisata serta beberapa fasilitas umum penunjang lainnya pasca gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Mbay - Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu pagi (15/8/2026).
Gempa utama berkedalaman 15 km di 30 km kawasan Mbay-Nagekeo yang memicu serangkaian gempa susulan kuat. Tercatat, guncangan susulan dirasakan hingga kawasan Labuan Bajo yang merupakan kawasan wisata dengan magnitudo 6,2 pada pukul 06.13 WITA, magnitudo 4,5 pada pukul 06.22 WITA, dan magnitudo 5,6 pada pukul 06.37 WITA.
Berdasarkan informasi Kementerian Pariwisata, beberapa fasilitas seperti hotel dan resto terdampak akibat gempa tersebut. Seperti yang tercatat hingga pukul 13.45 WITA kerusakan struktur dan beberapa bagian yang roboh terjadi pada Hotel Jayakarta di Manggarai Barat. Hal tersebut membuat seluruh tamu dan karyawan harus dievakuasi di wilayah Nagekeo.
Selain Hotel Jayakarta, Hotel Papita Mbay juga dilaporkan mengalami kerusakan, namun belum diketahui pasti apa kerusakan yang terjadi pada Hotel tersebut. Sementara itu, untuk Hotel Ayana, Ta'aktana Marriott, Crown, Menjaga Bay, Luwansa, Sudamala, dan Meurorah sampai saat ini masih dalam kondisi aman dengan listrik dan internet di sebagian besar akomodasi masih beroperasi normal. Kendati demikian, beberapa retakan kecil juga terlihat di beberapa titik.
Dampak gempa juga menyentuh sejumlah tempat usaha dan destinasi wisata unggulan. Restoran La Moringga dan Escape Bajo di Manggarai Barat hanya mengalami kerusakan ringan. Tempat usaha tersebut tetap beroperasi relatif kondusif, sementara seluruh staf dan pengunjung dipastikan aman.
Namun, kerusakan tercatat di kawasan Taman Nasional Komodo. Tembok papan nama destinasi wisata Loh Liang di Pulau Komodo dilaporkan ambruk. Hingga kini, pemantauan terhadap berbagai fasilitas pendukung daya tarik wisata di wilayah Flores masih berlangsung secara simultan.
Selain kawasan wisata, guncangan gempa melumpuhkan sebagian aksesibilitas dan fasilitas penunjang pariwisata. Seperti tanah longsor serta merobohkan tiang listrik di tiga jalur konektivitas utama, yakni Lintas Labuan Bajo–Ruteng, Bajawa–Ende, Ruteng–Borong, hingga ruas Ende–Moni.
Fasilitas infrastruktur penunjang seperti Pelabuhan Maumere Sikka juga turut mengalami kerusakan fisik. Berdasarkan pendataan sementara, guncangan hebat ini telah menelan empat korban jiwa. Rinciannya, satu korban meninggal di Terang (Manggarai Barat), dua korban di Reo (Manggarai), dan satu korban di Maumere (Sikka). Selain itu, dua warga di Maumere dilaporkan mengalami luka-luka.
Guna memastikan penanganan di lapangan berjalan optimal, Kementerian Pariwisata bersama BPOLBF telah mengaktifkan posko koordinasi secara intensif. BPOLBF berkolaborasi langsung bersama BMKG, KSOP, Basarnas, BPBD, dan Pemda Manggarai Barat untuk memantau industri pariwisata sekaligus memfasilitasi kebutuhan evakuasi para wisatawan.
Atas kejadian ini, Kementerian Pariwisata turut mengimbau para pelaku usaha, wisatawan domestik maupun mancanegara, serta warga setempat agar tetap tenang dan menyaring informasi hanya dari saluran resmi milik BMKG, BPOLBF, maupun instansi berwenang.
Mengingat situasi di lapangan masih terus berkembang, data mengenai korban dan tingkat kerusakan sektor pariwisata ini dipastikan masih bersifat sementara. Pembaruan informasi akan terus disampaikan secara berkala seiring masuknya laporan verifikasi dari tim gabungan di NTT.
(Agustina Wulandari )