Benarkah Kerokan Sambil Tiduran Bisa Sebabkan Kematian?

Niko Prayoga , Jurnalis
Sabtu 15 Agustus 2026 15:11 WIB
Benarkah Kerokan Sambil Tiduran Bisa Sebabkan Kematian? (Foto: latitudes)
Share :

JAKARTA Kerokan kerap menjadi pilihan masyarakat Indonesia untuk meredakan rasa pegal atau keluhan yang dianggap sebagai “masuk angin”. Namun, muncul anggapan bahwa melakukan kerokan saat tubuh dalam posisi tidur dapat memicu kondisi fatal. Benarkah demikian?

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, menjelaskan bahwa tidur saat atau setelah menjalani kerokan bukanlah faktor utama yang menyebabkan risiko serius. Menurutnya, kerokan pada dasarnya tetap dapat dilakukan selama teknik dan area tubuh yang dikerok diperhatikan.

“Ya, kerokan pada waktu tidur itu sebenarnya enggak masalah,” kata dr. Tirta, dikutip Sabtu (15/8/2026).

Bahaya Kerokan Terlalu Keras

Ia menjelaskan, potensi bahaya justru dapat muncul apabila kerokan dilakukan terlalu keras, terutama pada bagian tubuh tertentu yang memiliki pembuluh darah besar dan sensitif.

“Kenapa kok bisa mati? Mungkin kerokannya terlalu kencang sehingga memicu aktivasi di sini. Ini kan ada arteri karotis, ya, di sini arteri besar. Dan di sini sangat sensitif banget dengan perubahan tekanan,” jelasnya.

Menurut dr. Tirta, tekanan yang terlalu kuat pada area tersebut berpotensi memengaruhi tekanan darah secara tiba-tiba. Kondisi itu perlu menjadi perhatian, terutama bagi orang yang memiliki penyakit jantung atau kondisi kesehatan tertentu.

“Kalau misalnya dia ngeroknya terlalu ke leher sini, itu bisa memacu drop-nya tensi secara mendadak. Dan bagi orang yang punya penyakit jantung, itu bahaya,” tambah dr. Tirta.

Meski demikian, masyarakat tidak perlu khawatir untuk melakukan kerokan selama dilakukan secara wajar dan pada area yang tepat. Ia menyarankan agar kerokan dilakukan pada bagian tubuh yang memiliki massa otot cukup besar.

“Makanya kerokan itu secukupnya di otot-otot yang memang ekstremitas. Punggung, punggung bawah, bahu, lengan, kaki, paha, belakang lutut, atau leher belakang, sudah. Tapi enggak usah sampai samping sini, banyak arterinya,” tuturnya.

Selain lokasi, intensitas kerokan juga perlu diperhatikan. Menggosok kulit terlalu keras atau terlalu sering dapat menyebabkan iritasi hingga luka dan perdarahan.

“Dan kerokan itu jangan terlalu sering karena menyebabkan iritasi pada kulit. Apalagi yang terlalu kencang itu bisa berdarah. Sistemnya sebenarnya sama seperti masase dan seperti bekam. Jadi meningkatkan aktivasi pembuluh darah kapiler, sehingga membuat relaksasi pada otot,” ungkap dr. Tirta.

Di sisi lain, dr. Tirta mengaku masih melakukan kerokan sesekali. Baginya, aktivitas tersebut dapat membantu memberikan rasa rileks, terutama setelah beraktivitas dalam waktu lama di depan komputer maupun ponsel.

“Masih. Jadi saya itu masih kerokan. Nah, ini masih kerokan karena bermanfaat untuk relaksasi otot, terutama di bagian leher sama bahu. Karena kerjaan saya itu kan menghadap laptop, sama handphone, sama mengetik. Jadi biasa tegang di otot-otot leher,” pungkasnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya