Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tetap aktif, mengelola stres, serta memastikan tubuh mendapatkan waktu tidur yang cukup. Latihan isometrik sebaiknya tidak membuat seseorang meninggalkan aktivitas fisik lainnya.
“Tetap aktif dan kelola stres serta tidur. Gerakan diam tadi memang bagus buat menurunkan tahanan pembuluh darah, tapi olahraga kardio seperti jalan cepat tetap jadi kebutuhan buat kesehatan jantung. Saraf yang tegang gara-gara stres atau kurang tidur juga ngaruh ke tensi. Usahakan tidur tujuh sampai delapan jam semalam agar pembuluh darah ikut beristirahat maksimal,” lanjut dr. Cecep.
Di sisi lain, ia mengingatkan penderita hipertensi agar tidak menjadikan latihan tersebut sebagai pengganti pengobatan yang telah diresepkan dokter.
“Kapan ke dokter? Kalau angka tensi masih sering menembus 140/90 mmHg walau pola hidup sudah diubah. Dan ini penting: gerakan ini BUKAN alasan buat berhenti minum obat darah tinggi dari dokter,” pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)