Kerja mesin pemanas yang berlangsung secara otomatis dan berulang tanpa henti sepanjang hari menjadi penyebab utama melonjaknya konsumsi watt. Meski hanya digunakan sesekali saat membuat minuman hangat, pemanas akan terus bekerja mempertahankan suhu air.
“Dan pemanas itu gak kerja sekali doang, dia harus jaga air tetap panas terus. Tiap airnya mulai dingin, dia nyala lagi sepanjang hari, sepanjang malam. Padahal kita cuma pakai sesekali aja, kan? Makanya kadang ada dispenser panas yang sampai rusak dan merembes,” kata Bang Sap.
Kondisi mesin yang terus beroperasi ini tanpa disadari memberi dampak langsung pada beban finansial bulanan rumah tangga khususnya tagihan listrik. “Hitungan kasarnya, satu dispenser bisa memakan 1 sampai 1,4 kWh per hari. Artinya, dalam sebulan bisa memakan tarif sebesar Rp40-60 ribu cuma dari satu alat,” paparnya.
Kendati demikian, bukan berarti harus berhenti total menggunakan dispenser. Menurutnya, salah satu cara agar dispenser tidak memakan banyak daya listrik adalah dengan cara menggunakan pemanas seperlunya dan kemudian dimatikan saat tidak digunakan.
“Tapi tenang, ada cara ngakalin supaya bisa lebih hemat, dengan mematikan saklar pemanasnya. Nyalain cuma pas mau bikin kopi, teh, atau matcha saset, air panas siap dalam beberapa menit. Sisanya, biarin mati dulu,” tutur Bang Sap.
(Agustina Wulandari )