dr. Tirta menuturkan bahwa anggapan hiperhidrosis sebagai indikasi lemah jantung akibat kondisinya yang hampir mirip dengan gejala serangan jantung. Saat seseorang mengalami serangan jantung akan merasakan nyeri hebat di bagian regio kiri dan menjalar ke seluruh tubuh hingga mengeluarkan keringat dingin.
“Dikarenakan serangan jantung itu salah satu gejalanya yang parah itu adalah dia ada nyeri hebat di bagian kiri, regio kiri, dan dia menjalar dari bahu, punggung, sampai lengan, sampai telapak tangan. Nah, saking nyerinya, itu sampai keringat dingin,” ucap dia.
Itulah mengapa orang awam atau masyarakat secara umum menganggap bahwa hiperhidrosis merupakan tanda penyakit lemah jantung.
“Nah, karena hal ini orang-orang awam tahunya, 'Wah, ini nyeri terus keringat dingin', akhirnya muncullah telapak tangan keringat dingin sama dengan sakit jantung. Itu kalau jawabannya. Tetapi kalau dikatakan hiperhidrosis adalah lemah jantung, itu mitos,” tegas dia.
Di sisi lain, dr. Tirta mengungkapkan bahwa pada penderita hiperhidrosis yang sudah terlalu mengganggu aktivitas, keringat yang dikeluarkan bisa sangat banyak. dr. Tirta menyarankan agar penderita yang sudah mencapai tahap tersebut untuk berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam atau dokter saraf.
“Nah, ketika misalkan hiperhidrosis itu terlalu mengganggu, itu tangan bisa basah banget pol. Dan itu akhirnya membuat harus datang ke dokter penyakit dalam atau dokter saraf, butuh dicek. Karena kalau misalkan mengganggu banget, misalkan sampai netes-netes gini, ya itu harus dicek, cuman bukan merupakan gejala penyakit jantung,” pungkas dia.
(Djanti Virantika)