Selain nikotin, cairan (liquid) rokok elektrik mengandung bahan-bahan kimia berbahaya. Hal ini tak boleh dianggap remeh.
“Cairan vape mengandung formaldehid dan logam berat, zat-zat yang bisa merusak paru-paru dan berpotensi menyebabkan kanker," ujar dr. Adam.
Di sisi lain, klaim bahwa vape adalah alat bantu untuk berhenti merokok terbukti keliru jika diterapkan pada anak-anak. Riset menunjukkan anak yang terpapar vape justru lebih rentan terjerat kecanduan rokok tembakau.
“Penelitian nemuin bahwa remaja pengguna vape punya risiko hampir tiga kali lipat buat akhirnya jadi perokok tembakau aktif. Jadi anggapan vape itu jalan keluar dari rokok, sebenernya kebalik. Malah pada anak dan remaja, vape lebih sering jadi gerbang masuk ke rokok konvensional," tutur dr. Adam.
Pernyataannya ini diperkuat oleh temuan ilmiah, salah satunya merujuk pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 oleh Kementerian Kesehatan RI serta tinjauan ilmiah Vaping and harm in young people: umbrella review. Data tersebut menunjukkan peningkatan tren paparan rokok elektronik pada usia muda yang kian mengkhawatirkan.
Maka dari itu, dr. Adam mengajak masyarakat khususnya para figur publik dan pemegang pengaruh di ranah media sosial untuk lebih bijak serta tidak memanfaatkan kepopuleran anak demi kepentingan promosi produk berbahaya.
“Jadi, udah cukup jelas ya kenapa kita harus kesel banget sama orang-orang, terutama yang punya power gede, dan malah digunakan untuk minta anak-anak promosiin vape?” pungkas dia.
(Djanti Virantika)