"Sejak puluhan tahun lalu, Gunung Kawi menjadi tujuan masyarakat untuk berdoa, berziarah, dan bersyukur. Tempat ini dikenal sebagai ruang perjumpaan budaya dan wisata religi, bukan sekadar cerita sensasional yang kini beredar di internet," tulis pengelola.
Mereka juga menilai berkembangnya konten-konten yang mengejar sensasi telah menggeser citra Gunung Kawi di mata publik. Menurut pengelola, narasi mistis lebih cepat menarik perhatian dibandingkan kisah mengenai sejarah, toleransi, maupun warisan budaya yang menjadi identitas kawasan tersebut.
"Bagi kami, Gunung Kawi adalah rumah. Sangat disayangkan ketika cerita yang menakutkan lebih cepat viral dibandingkan nilai budaya, sejarah, dan penghormatan kepada para leluhur," lanjut keterangan tersebut.
Pengelola menegaskan masyarakat sekitar tidak pernah membangun identitas Gunung Kawi sebagai tempat pesugihan. Mereka mengakui mungkin saja ada pihak luar yang memanfaatkan nama Gunung Kawi untuk kepentingan tertentu, namun hal itu tidak mencerminkan sejarah maupun nilai yang diwariskan di kawasan tersebut.
Karena itu, mereka berharap masyarakat dapat melihat Gunung Kawi secara lebih utuh sebagai destinasi wisata budaya dan religi yang memiliki nilai sejarah panjang, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar melalui aktivitas pariwisata dan ziarah.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)