Mengapa Gunung Kawi Tiba-Tiba Viral di Media Sosial?

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis
Rabu 15 Juli 2026 19:09 WIB
Mengapa Gunung Kawi Tiba-Tiba Viral di Media Sosial? (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA – Nama Gunung Kawi belakangan ramai menjadi perbincangan di media sosial setelah kembali dikaitkan dengan isu pesugihan. Berbagai konten yang beredar di platform digital memunculkan beragam persepsi publik, hingga akhirnya mendapat tanggapan dari pemerintah maupun pengelola kawasan wisata religi tersebut.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai Gunung Kawi merupakan bagian dari kekayaan tradisi dan budaya Indonesia yang telah berkembang sejak lama. Menurutnya, masyarakat memiliki beragam cara dalam memaknai tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah maupun spiritual.

"Gunung Kawi merupakan bagian dari keberagaman tradisi dan budaya yang sudah lama hidup di tengah masyarakat. Pendekatan setiap orang terhadap tempat-tempat seperti ini tentu berbeda-beda," ujar Fadli.

Ia menambahkan, selama aktivitas di kawasan tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, mendukung sektor ekonomi lokal, serta tidak merusak lingkungan maupun fasilitas yang ada, keberadaannya patut dihargai sebagai bagian dari realitas sosial dan budaya Indonesia.

"Selama memberikan manfaat, khususnya bagi ekonomi masyarakat setempat, serta tidak mengganggu atau merusak, tentu hal tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kita," katanya.

Pengelola Bantah Gunung Kawi Identik dengan Pesugihan

Di sisi lain, pengelola wisata religi Gunung Kawi juga meluruskan berbagai informasi yang beredar. Melalui akun Instagram resmi @gunungkawistory, mereka menegaskan bahwa kawasan tersebut sejak lama dikenal sebagai tempat ziarah, doa, dan ungkapan rasa syukur, bukan lokasi praktik pesugihan.

Menurut pengelola, jauh sebelum ramai dibahas di media sosial, Gunung Kawi telah menjadi destinasi yang dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah untuk beribadah sekaligus mengenal nilai sejarah dan budaya yang berkembang di kawasan tersebut.

"Sejak puluhan tahun lalu, Gunung Kawi menjadi tujuan masyarakat untuk berdoa, berziarah, dan bersyukur. Tempat ini dikenal sebagai ruang perjumpaan budaya dan wisata religi, bukan sekadar cerita sensasional yang kini beredar di internet," tulis pengelola.

Mereka juga menilai berkembangnya konten-konten yang mengejar sensasi telah menggeser citra Gunung Kawi di mata publik. Menurut pengelola, narasi mistis lebih cepat menarik perhatian dibandingkan kisah mengenai sejarah, toleransi, maupun warisan budaya yang menjadi identitas kawasan tersebut.

"Bagi kami, Gunung Kawi adalah rumah. Sangat disayangkan ketika cerita yang menakutkan lebih cepat viral dibandingkan nilai budaya, sejarah, dan penghormatan kepada para leluhur," lanjut keterangan tersebut.

Nilai Budaya Dianggap Lebih Penting

Pengelola menegaskan masyarakat sekitar tidak pernah membangun identitas Gunung Kawi sebagai tempat pesugihan. Mereka mengakui mungkin saja ada pihak luar yang memanfaatkan nama Gunung Kawi untuk kepentingan tertentu, namun hal itu tidak mencerminkan sejarah maupun nilai yang diwariskan di kawasan tersebut.

Karena itu, mereka berharap masyarakat dapat melihat Gunung Kawi secara lebih utuh sebagai destinasi wisata budaya dan religi yang memiliki nilai sejarah panjang, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar melalui aktivitas pariwisata dan ziarah.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya