JAKARTA — Memasang ring atau (stent) pada jantung terhadap pengidap penyakit jantung acapkali menjadi solusi praktis untuk menyembuhkan serangan jantung atau penyakit jantung koroner. Namun hal tersebut ternyata tidak menjamin penderita sembuh secara total.
Teknologi intervensi jantung yang kian maju saat ini sering kali memicu salah kaprah di kalangan awam, yang mengira tindakan medis tersebut otomatis menyembuhkan penyakit jantung koroner secara total tanpa adanya batasan klinis.
Dokter Spesialis Jantung Konsultan Kardiologi Intervensi Bobby Arfhan Anwar dalam podcast di channel YouTube Raditya Dika mengatakan, prosedur pemasangan ring jantung tidak sesederhana yang dibayangkan masyarakat. Faktanya, ada banyak kondisi di mana pemasangan ring justru sangat sulit dilakukan, bahkan tidak menjadi opsi utama.
"Jadi, kalau cukup beruntung, tanda kutip, ya, kasusnya simpel case itu penyempitan, pasang ring, selesai. Tapi kenyataannya enggak enggak semua seperti itu. Ada kasus-kasus yang pasang ringnya sulit banget, yang sudah terlalu keras, atau pembuluh darah penyempitannya di tempat yang berisiko, atau di pembuluh darah yang kecil. Nah, ini semua banyak faktor, jadi enggak sesimpel itu sih sebenarnya," kata dr. Bobby, dikutip Sabtu (4/7/2026).
Ia menyebut, kondisi anatomi pembuluh darah menjadi faktor penentu utama. Khususnya dalam kasus tertentu, di mana plak penyumbatan sudah terlalu keras akibat penumpukan kalsium yang kronis. Kondisi tersebut dikenal sebagai kalsifikasi pembuluh darah, di mana tim medis harus menerapkan teknologi intervensi tingkat lanjut sebelum mempertimbangkan pemasangan ring.
Lebih lanjut, dr. Bobby menjelaskan bahwa pembuluh darah yang kaku tidak bisa langsung diregangkan dengan balon atau ring biasa karena risiko cedera pembuluh darah yang sangat tinggi. Solusinya, dokter spesialis jantung harus menghancurkan komponen kalsium tersebut dari dalam saluran darah dengan alat khusus atau biasa dikenal dengan alat berubah bor.
"Maksudnya bukan pembuluh darah dibor, tapi plak-nya itu dibor dengan bor khusus namanya rotablator. Jadi dihancurkan, dikikis dari dalam. Setelah lebih longgar, baru dipasang ring. Itu juga bisa," ucapnya.
Teknologi rotablator ini merupakan opsi inovatif untuk melonggarkan ruang di dalam arteri, sehingga ring dapat terpasang dengan sempurna dan mengembalikan aliran darah ke otot jantung. Namun, jika penyumbatan sudah menyebar secara masif pada struktur utama pembuluh darah, intervensi non-bedah ini tidak lagi memadai.
Terlebih, jantung manusia disuplai oleh tiga cabang pembuluh darah utama. Jia seluruh cabang tersebut mengalami penyempitan yang signifikan, maka prosedur bedah terbuka atau Coronary Artery Bypass Graft (CABG) menjadi jalur medis terbaik demi keselamatan pasien jangka panjang.
"Tapi kalau misalkan penyempitannya sudah di tiga pembuluh darah, kalau pembuluh darah jantung kita itu kan tiga cabang. Kalau tiga-tiganya penyempitan, itu harus bypass yang terbaik dibandingkan dengan pasang ring. Karena studinya menunjukkan orang yang banyak penyempitan, dibandingkan dia pasang ring lima atau empat misalkan, lebih bagus bypass. Long-term-nya lebih bagus hasil studinya," ucap dr. Bobby.
Prosedur bypass konvensional sendiri merupakan kategori operasi besar (mayor surgery). Dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular akan membuat jalur baru mengalirkan darah melewati area yang tersumbat menggunakan pembuluh darah sehat dari bagian tubuh lain.
(Agustina Wulandari )