HENTI jantung menjadi kondisi medis darurat yang membutuhkan penanganan sangat cepat. Keterlambatan memberikan pertolongan, terutama CPR (Cardiopulmonary Resuscitation), dapat berdampak fatal pada fungsi otak.
Dalam hitungan menit saja tanpa suplai oksigen yang cukup, otak berisiko mengalami kerusakan permanen yang tidak dapat dipulihkan. Alhasil, penanganan segera menjadi kunci utama untuk menyelamatkan nyawa pasien.
Dokter dari RS Harapan Bunda, dr. Andi Sitti Tandina, menjelaskan pentingnya penanganan cepat pada kasus henti jantung atau cardiac arrest. Dalam acara Morning Zone yang tayang di kanal YouTube Okezone, ia menegaskan bahwa otak dapat mengalami kerusakan permanen hanya dalam waktu 4 hingga 6 menit jika tidak segera mendapatkan pertolongan berupa CPR.
Menanggapi mitos atau fakta mengenai kondisi otak saat henti jantung, dr. Andi Sitti menegaskan bahwa pernyataan tersebut adalah fakta medis.
“Fakta, betul. Otak itu sesingkat itu dia masa hidupnya. Sekalipun misalnya kita sudah CPR, kita cek tiap 2 menit, itu kan berarti kurangnya oksigen. Kita sebut hipoksia serebri, kurangnya oksigen ke dalam otak,” ujar dr. Andi Sitti.