KEBAYA encim merupakan salah satu busana tradisional yang tidak bisa dilepaskan dari identitas budaya Betawi. Setiap peringatan hari ulang tahun (HUT) DKI Jakarta, kebaya ini kerap kembali mencuri perhatian.
Pasalnya, kebaya encim menjadi simbol akulturasi budaya yang telah mengakar sejak lama di Ibu Kota. Kini, di HUT ke-499 Jakarta yang jatuh pada hari ini, Senin (22/6/2026), menarik mengulas lebih jauh soal kebaya encim.
Dilansir dari Senibudayabetawi.com, Jakarta yang dahulu dikenal sebagai Batavia merupakan kota pelabuhan yang menjadi pusat pertemuan berbagai budaya, mulai dari Betawi, Tionghoa, hingga Eropa. Dari proses akulturasi inilah, kebaya encim lahir dan berkembang.
Menurut catatan sejarah, kebaya encim merupakan hasil perpaduan budaya peranakan Tionghoa dengan masyarakat pesisir di wilayah Jawa bagian utara, termasuk Jakarta. Busana ini kemudian diadaptasi dan menjadi bagian dari identitas perempuan Betawi.
Jakarta menjadikan kebaya encim bukan sekadar pakaian tradisional. Namun, juga simbol keberagaman yang hidup berdampingan di tengah masyarakatnya.
“Di awal kemunculannya, kebaya encim kerap kali disebut sebagai kebaya nyonya. Ini tak lain karena kebaya jenis encim ini kerap kali dipakai oleh para nyonya yang telah menikah. Adapun panggilan nyonya merupakan sebutan bagi kaum peranakan Tionghoa yang telah menikah. Bermula dari hal inilah kebaya encim dapat diartikan sebagai kebaya yang dipakai oleh bibi atau perempuan yang telah menikah,” tulis Senibudayabetawi.com.