JAKARTA – Tidak sedikit orang berhasil menurunkan berat badan melalui program diet, namun mengalami kenaikan berat badan kembali beberapa waktu kemudian. Kondisi yang dikenal sebagai weight regain ini ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh pola makan atau kurangnya disiplin, tetapi juga berkaitan dengan mekanisme biologis tubuh.
Dokter Spesialis Gizi Klinik Bamed, dr. Maryam, Sp.GK, menjelaskan bahwa mempertahankan berat badan ideal sering kali lebih menantang dibandingkan proses menurunkannya.
“Jadi bukan hanya soal turun saja, tetapi bagaimana mempertahankannya agar tetap stabil dan berkelanjutan,” kata dr. Maryam dalam Seminar Media Comprehensive Aesthetic and Wellness Bamed, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, pola makan tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga berat badan. Namun, masih banyak masyarakat yang belum memenuhi kebutuhan protein dan serat harian secara optimal.
“Mau menggunakan strategi apa pun, pola makan tetap menjadi fondasi. Karena itu, penting menerapkan gizi seimbang dengan komposisi yang sesuai kebutuhan, yakni mengandung karbohidrat, protein, dan serat,” jelasnya.
Dr. Maryam menilai konsumsi protein masyarakat Indonesia umumnya masih rendah, sementara asupan karbohidrat cenderung berlebihan. Padahal, protein berperan penting dalam menjaga massa otot sekaligus membantu memberikan rasa kenyang lebih lama.
Selain pola makan, aktivitas fisik juga berperan besar dalam mencegah berat badan kembali naik. Meski demikian, ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu memaksakan diri mengikuti tren olahraga tertentu.
“Sebenarnya tidak perlu aktivitas fisik yang berlebihan atau mengikuti tren tertentu. Menjadi individu yang lebih aktif saja sudah memberikan manfaat,” ujarnya.
Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki atau memperbanyak gerak dalam keseharian tetap dapat membantu meningkatkan pembakaran kalori.
Terkait fenomena berat badan yang kembali naik setelah diet, dr. Maryam menjelaskan bahwa sel lemak dalam tubuh memiliki semacam “memori”. Kondisi ini terutama terjadi pada orang yang sebelumnya mengalami obesitas.
“Ketika berat badan sudah turun, potensi weight regain memang lebih tinggi karena sel lemak memiliki memori,” katanya.
Akibatnya, tubuh cenderung berusaha kembali ke kondisi sebelumnya. Hal tersebut dapat memengaruhi hormon pengatur nafsu makan sehingga seseorang lebih mudah merasa lapar dan lebih sulit merasa kenyang.
Untuk meminimalkan risiko weight regain, dr. Maryam menyarankan masyarakat fokus pada tiga faktor utama, yakni pola makan yang sehat, aktivitas fisik yang cukup, dan kualitas tidur yang baik.
“Hal-hal tertentu memang tidak bisa sepenuhnya kita kendalikan. Namun, yang bisa diupayakan secara maksimal adalah menjaga pola makan, rutin bergerak, dan memastikan waktu tidur cukup. Tidur itu penting,” pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)