MARATON sering dipandang sebagai ajang olahraga yang menantang sekaligus prestisius. Namun di balik euforia ribuan pelari yang turun ke jalan, ada satu aspek penting yang sering menjadi penentu keselamatan, yakni mileage atau total jarak lari mingguan.
Persiapan jelang maraton sendiri tengah ramai disorot usai digelarnya acara maraton di Jakarta pada Minggu 14 Juni 2026 yang sampai menelan korban jiwa. Peristiwa ini memunculkan kembali diskusi publik tentang kesiapan fisik peserta, standar keamanan event massal, dan pentingnya edukasi sebelum mengikuti maraton. Lantas seperti apa persiapan jelang maraton yang wajib diketahui?
Dokter sekaligus figur publik dr. Tirta dalam unggahannya di Instagram pribadinya, beberapa kali menegaskan bahwa marathon bukan sekadar bisa lari 42 km. Maraton tentang bagaimana tubuh dibangun melalui latihan bertahap dan konsisten.
Menurut dr. Tirta, weekly mileage adalah kunci utama dalam persiapan maraton karena berfungsi membangun aerobic base. Sistem aerobik inilah yang memungkinkan tubuh bertahan dalam aktivitas jangka panjang seperti lari 42,195 km.
dr. Tirta menjelaskan bahwa setiap kilometer yang dikumpulkan setiap minggu ibarat “tabungan fisik”. Persiapan inilah yang membuat tubuh semakin efisien menggunakan energi.
“Yo kawan-kawan heboh lagi di dunia lari, tentang full marathon-marathon ya 42,2 kilo sekian-sekianlah, dan kali ini saya sharing. Jadi kalau pertanyaannya bisa enggak sih orang tidak punya background latihan fisik terus tiba-tiba latihan cuman 3 atau 4 bulan dan finis marathon? Oh bisa walau finisnya enggak selalu strong ya atau mungkin finisnya mungkin enggak kencang lah 5, 6, 7 jam enggak papa yang penting fun kan,” ujar dr. Tirta dikutip dari Instagram resminya @dr.tirta.
“Cuma mileage itu penting. Weekly mileage itu adalah hal yang paling penting karena tujuannya untuk membangun aerobic base. Jadi tubuh kita tuh punya bahan bakar dari aerobic,” lanjutnya.