Besarnya biaya juga sangat dipengaruhi oleh usia pasien. Pada perempuan yang lebih muda, dosis obat yang dibutuhkan biasanya lebih rendah karena cadangan sel telur masih banyak.
Sebaliknya, pada usia yang lebih tua, misalnya mendekati 40 tahun, dosis obat yang dibutuhkan bisa lebih besar. Pasalnya, cadangan sel telur sudah menurun, sehingga biaya pun ikut meningkat.
Hingga saat ini, program egg freezing belum ditanggung oleh BPJS Kesehatan maupun sebagian besar asuransi swasta di Indonesia. Hal ini membuat seluruh biaya prosedur harus ditanggung secara mandiri oleh pasien.
Selain biaya untuk prosedur pembekuan sel telur, terdapat juga biaya penyimpanan sel telur yang dibekukan. Biaya ini dibayarkan setiap tahun selama sel telur disimpan di fasilitas medis.
Secara medis, sel telur yang dibekukan dapat bertahan lama, bahkan hingga 10–15 tahun. Hal ini bisa terjadi jika disimpan dengan standar laboratorium yang tepat.
(Djanti Virantika)