"Kita bicarakan agar mencerdaskan mereka sehingga mereka mengerti apa dampak daripada merokok dan mereka sendiri yang akan menolak."
Pemerintah saat ini juga tengah menyelesaikan sejumlah regulasi yang bertujuan mengurangi daya tarik produk tembakau, terutama bagi anak-anak dan remaja. Selain melalui regulasi, pengendalian tembakau dinilai perlu diperkuat melalui edukasi, promosi kesehatan, serta kolaborasi berbagai pihak.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, William Adi Teja, mengatakan bahwa upaya menurunkan prevalensi perokok membutuhkan berbagai pendekatan yang saling melengkapi.
"Untuk menghentikan rokok itu sangat banyak caranya. Salah satunya ada produk pengganti. Tentunya ada juga kawasan bebas rokok, kemudian juga adanya edukasi," ujar William.
BPOM mendukung pengembangan inovasi berbasis bukti ilmiah yang dapat membantu masyarakat yang memiliki keinginan kuat untuk berhenti merokok. Menurutnya, pengendalian tembakau membutuhkan kolaborasi lintas sektor karena tantangannya tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga aspek sosial dan ekonomi. Perluasan akses terhadap terapi pengganti nikotin yang aman dan berbasis bukti juga dapat menjadi salah satu alternatif.