JAKARTA - Pemerintah menyoroti tingginya angka perokok usia muda di Indonesia. Dengan rata-rata usia mulai merokok yang semakin dini, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Benjamin P. Octavianus menilai edukasi mengenai bahaya rokok harus diberikan sejak jenjang SMP agar anak-anak memahami risiko kesehatan sebelum terpapar kebiasaan merokok.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam peluncuran Kampanye #SehatTanpaRokok yang digagas Kementerian Kesehatan RI bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Kenvue Indonesia, dan Guardian Indonesia. Kampanye ini bertujuan memperkuat upaya pencegahan merokok sejak dini melalui edukasi kesehatan yang lebih luas, khususnya bagi anak-anak dan remaja.
Wamenkes Benjamin menegaskan bahwa pencegahan harus menjadi fokus utama dalam pengendalian konsumsi tembakau di Indonesia, terutama pada kelompok usia muda yang rentan mulai merokok. Menurutnya, gerakan edukasi perlu masuk ke lingkungan sekolah secara masif dan bahkan dapat dipertimbangkan untuk menjadi bagian dari kurikulum pendidikan formal.
"Kalau kita tahu usianya 14 tahun [mulai merokok], maka gerakan ini harus dimulai di SMP secara masif," kata Wamenkes Benny dilansir dari laman Kemenkes,
Ia menilai edukasi kesehatan harus diberikan secara ilmiah agar anak-anak dan remaja memahami dampak merokok terhadap tubuh sejak dini.