Sani mengatakan, jika kondisi ini dibiarkan, ketergantungan yang berlebihan terhadap AI berpotensi membuat anak semakin menarik diri dari lingkungan sosial. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam membangun hubungan interpersonal dan menghadapi dinamika kehidupan nyata.
Sani menegaskan bahwa AI dapat memberikan banyak manfaat apabila digunakan secara bijak. Namun, ketika anak mulai menggantikan interaksi sosial dengan teknologi, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada perkembangan sosial dan emosional mereka.
“Nah ini yang menjadi keresahan kita semua dan saya bisa mengatakan kondisi ini dianggap tidak aman,” ucap Sani.
Karena itu, orangtua perlu berperan aktif mendampingi penggunaan teknologi pada anak. AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu untuk belajar dan mencari informasi, bukan sebagai pengganti hubungan emosional maupun sosial yang seharusnya dibangun bersama keluarga dan lingkungan sekitar.
(Djanti Virantika)