PERKEMBANGAN teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin memengaruhi kehidupan sehari-hari. Bahkan, AI sudah mempengaruhi cara anak dan remaja mencari informasi hingga mencurahkan perasaan.
Kini, tidak sedikit anak yang merasa lebih nyaman bertanya atau curhat kepada chatbot dan AI dibandingkan kepada orangtua, guru, atau teman sebaya. Apakah fenomena ini wajar atau mengkhawatirkan?
Psikolog Anak Remaja dan Keluarga, Sani Budiantini, S.Psi, Psi, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone menilai fenomena tersebut merupakan konsekuensi dari kemajuan teknologi. Kondisi ini memberikan akses cepat dan mudah bagi generasi muda.
AI pun akhirnya dapat diakses kapan saja dan mampu memberikan respons dalam hitungan detik. Alhasil, AI menjadi pilihan praktis bagi anak ketika membutuhkan jawaban atau teman berbicara.
Meski demikian, kondisi ini perlu menjadi perhatian ketika AI mulai mengambil alih peran relasi sosial dalam kehidupan anak. Kekhawatiran muncul saat anak merasa tidak lagi membutuhkan interaksi dengan keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar karena sudah merasa cukup dengan kehadiran AI.
Menurut Sani Budiantini, hubungan sosial yang sehat tidak hanya berfungsi sebagai tempat bertukar informasi, tetapi juga menjadi sarana untuk belajar empati, memahami emosi, membangun kepercayaan, serta mengembangkan kemampuan komunikasi. Berbagai aspek tersebut tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
"Yang menjadi masalah adalah ketika anak merasa relasi sosialnya sudah tergantikan oleh AI. Ia merasa tidak lagi membutuhkan orang-orang di sekitarnya, enggak perlu om, tante, kakak, adik, karena semua kebutuhan bertanya dan bercerita bisa dipenuhi oleh teknologi," jelas Sani.