JAKARTA - Pasta kerap dianggap sebagai makanan yang dapat memicu lonjakan gula darah. Padahal, pengaruh pasta terhadap kadar gula darah tidak selalu sama pada setiap orang. Cara memasak, porsi konsumsi, hingga jenis makanan pendamping turut memengaruhi respons tubuh setelah mengonsumsinya.
Meski mengandung karbohidrat, pasta memiliki indeks glikemik yang cenderung lebih rendah dibandingkan beberapa sumber karbohidrat olahan lain, seperti roti putih atau nasi putih instan. Struktur pati pada pasta lebih padat sehingga dicerna lebih lambat oleh tubuh.
Karena proses pencernaannya lebih lambat, kenaikan gula darah setelah makan pasta umumnya terjadi secara bertahap.
Mengonsumsi pasta terlalu sering atau dalam porsi besar tetap dapat memengaruhi kadar gula darah, terutama pada orang yang memiliki resistensi insulin atau diabetes. Tubuh harus bekerja lebih keras menghasilkan insulin untuk mengontrol kadar gula setelah makan.
Meski begitu, pasta tidak harus dihindari sepenuhnya selama dikonsumsi dengan pola makan seimbang.
Kombinasi pasta dengan lauk tinggi protein, sayuran, atau lemak sehat dapat membantu memperlambat penyerapan glukosa dalam tubuh. Hal ini membuat lonjakan gula darah setelah makan menjadi lebih terkendali.
Sebaliknya, pasta yang dipadukan dengan saus tinggi gula atau makanan tinggi lemak jenuh dapat memberikan efek berbeda pada tubuh.
Pasta yang telah didinginkan lalu dipanaskan kembali dapat membentuk resistant starch atau pati resisten. Jenis pati ini bekerja menyerupai serat sehingga lebih lambat dicerna tubuh.
Kondisi tersebut membantu menjaga kadar gula darah tetap lebih stabil dibandingkan pasta yang baru matang.
Pasta berbahan gandum utuh diketahui memiliki kandungan serat lebih tinggi dibanding pasta biasa. Serat membantu memperlambat pelepasan glukosa ke aliran darah dan mendukung sensitivitas insulin.
Selain itu, pasta berbahan kacang-kacangan seperti chickpea, lentil, atau edamame juga dinilai lebih baik karena mengandung protein dan serat lebih tinggi.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)