1. Lactose intolerance: ketidakmampuan tubuh mencerna laktosa. Alergi susu sapi: reaksi imun terhadap protein susu sapi. Alergi susu sapi tidak hanya terjadi pada saluran cerna, tetapi juga pada sistem organ lain dan bisa berbahaya.
2. Studi: sensitisasi terhadap β-laktoglobulin meningkatkan risiko infeksi saluran napas berulang pada anak <2 tahun.
3. Berisiko terjadi reaksi silang. Tidak boleh untuk bayi <1 tahun (kecuali dalam bentuk susu formula, dan saat ini belum tersedia di Indonesia).
4. Protein susu sapi yang dikonsumsi ibu dapat terkandung dalam ASI. Hindari susu sapi dan produk turunannya sampai usia 9–12 bulan (minimal 6 bulan). Ibu mungkin membutuhkan suplementasi kalsium. Pastikan sesuai arahan dokter.
5. Kolik adalah tangisan yang intens dan berkepanjangan >3 jam/hari, >3 hari/minggu, selama >3 pekan. Kolik dapat menjadi salah satu tanda alergi susu sapi.
6. Ketika anak menolak menyusu atau sering muntah beberapa waktu setelahnya, curigai kemungkinan alergi susu. Tetap waspadai gejala lainnya.
7. Gejala ringan–sedang: gunakan formula terhidrolisat ekstensif. Gejala berat: formula asam amino. Jika tidak tersedia atau terkendala biaya, bayi >6 bulan boleh menggunakan formula kedelai (soya).
8. Sebagian besar anak akan toleran di usia balita. Produk susu boleh dicoba kembali secara bertahap. Jika gejala muncul kembali, lanjutkan eliminasi selama 6 bulan dan evaluasi ulang di bawah pengawasan dokter.
9. Anak tetap bisa tumbuh optimal dan bebas bereksplorasi dengan penggunaan alternatif susu sapi yang tepat serta asupan protein hewani yang adekuat.
10. Risiko alergi makanan meningkat jika salah satu atau kedua orang tua memiliki riwayat alergi makanan atau alergi lainnya.
(Rani Hardjanti)